Senin, 15 April 2013

makalah TQM

Proposal Skripsi TQM Akuntansi Manajemen



BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah.
Era perdagangan bebas di Indonesia yang ditandai dengan berlakunya Perjanjian Perdagangan Bebas ASEAN (ASEAN Free Trade Agreement / AFTA) pada tahun 2003 dan disusul dilaksanakannya Penjanjian Perdagangan Bebas ASEAN – Cina (ASEAN-China Free Trade Agreement / ACFTA ) mulai 1 Januari 2010, mengakibatkan perusahaan swasta maupun badan usaha milik negara dihadapkan  pada kondisi persaingan global, tak terkecuali untuk perusahaan manufaktur di Indonesia..
Akibat Persaingan yang semakin tajam di dunia bisnis,  perusahaan yang dahulu bersaing hanya pada tingkat lokal, nasional maupun regional kini harus bersaing dengan perusahaan dari seluruh penjuru dunia . Hal ini karena peningkatan arus penawaran produk barang dan jasa dengan harga yang lebih bersaing dari produk luar.
Perkembangan perdagangan dunia menuntut perusahaan-perusahaan yang sudah ada untuk tetap dapat bertahan agar dapat bersaing dengan perusahaan-perusahaan yang akan bermunculan dan tetap terus memperoleh keuntungan. 
Persaingan global ini memberikan beragam pilihan kepada konsumen, sehingga tuntutan konsumen akan peningkatan kualitas produk semakin bertambah. Untuk  dapat bertahan dan berhasil dalam lingkungan seperti itu suatu perusahaan harus dapat bekerja secara efisien dan efektif , sehingga perusahaan harus memikirkan ulang strategi manajemen guna menciptakan nilai lebih/ value bagi konsumen dalam bentuk produk dan jasa serta pelayanan berkualitas, sehingga perusahaan juga memperoleh nilai /value lebih.
Maka pada era persaingan global dan liberalisasi perdagangan dewasa ini, kualitas produk barang dan jasa telah menjadi salah satu faktor penting terpenting untuk mencapai keunggulan kompetitif perusahaan., seperti yang diungkapkan Vidhu Shekhar Jha  dan Himanshu Joshi (2003)“A good quality product or service enables an organization to add and retain customers. Poor quality leads to discontented customers, so the costs of poor quality are not  just those of immediate waste or rectification but also the loss of future sales
Oleh karena itu, perbaikan berkelanjutan harus dilakukan oleh perusahaan agar dapat mendorong peningkatan pangsa pasar dan memenangkan persaingan melalui dua faktor penting yaitu kualitas produk yang tinggi dan harga bersaing. 
Dalam situasi persaingan yang semakin tajam, pendekatan Total Quality Management semakin banyak digunakan  sebagai teknik yang diimplementasikan sebagai formula dalam berkompetisi.
Total Quality Management adalah pendekatan tingkat perusahaan atas perbaikan mutu yang mencari cara untuk memperbaiki mutu disemua proses dan aktivitas. (Carter Usry,2006:199)
  Praktik pemanufakturan Total Quality Management merupakan praktik yang menekankan peningkatan kualitas, mengeliminasi pemborosan, mengembangkan keterampilan, agar tercapai penyempurnaan mutu barang, dan jasa secara berkesinambungan dengan tujuan mencapai kepuasan konsumen. Praktik TQM tersebut lebih berfokus kepada keterlibatan karyawan yang merupakan sumber yang sangat bernilai bagi organisasi. (Aida dan Listianingsih :2005). Oleh karena itu, TQM memiliki prinsip untuk menghargai setiap anggota perusahaan yang terlibat dalam memberikan  pendapat demi perbaikan perusahaan secara berkelanjutan.
            Peran dan dukungan komitmen dari seluruh anggota organisasi dan fungsi manajemen dalam perencanaan merupakan aspek yang  dibutuhkan untuk pencapaian tujuan perusahaan. Oleh sebab itu,  selain penerapan TQM agar tujuan perusahaan dapat dicapai  maka diperlukan suatu pedoman dan komponen perencanaan  yang disebut dengan anggaran.
        Menurut Horngren et,all (2008:214),” anggaran adalah pernyataan kuantitatif suatu rencana kegiatan yang dibuat manajemen untuk duatu periode tertentu dan alat yang membantu mengkoordinasikan hal-hal yang perlu dilakukan guna mengimplementasikan rencana”. Anggaran merupakan alat manajemen dalam mencapai tujuan dan hendaknya anggaran yang disusun dapat mengakomodasi kepentingan setiap bagian perusahaan yang terkait dalam pelaksanaanya.
        Proses penyusunan anggaran merupakan proses penetapan peran, dimana pihak-pihak yang berkaitan diberi peran untuk melaksanakan kegiatan pencapaian sasaran yang ditetapkan dalam anggaran.
Oleh sebab itu diperlukan partisipasi penyusunan anggaran oleh beragam pihak dalam perusahaan sebagai pendekatan manajemen yang dinilai dapat meningkatkan kinerja manajerial perusahaan.
Menurut Brownell (dalam Bambang dan Osmad:2008:38) partisipasi anggaran  ialah sebagai suatu proses dalam organisasi yang melibatkan para manajer dalam penentuan tujuan anggaran yang menjadi tanggung jawabnya.
Partisipasi dari bawahan dalam penyusunan anggaran dapat meningkatkan kinerja karena dengan adanya komunikasi antara bawahan dan atasan dapat memungkinkan bawahan untuk memilih. Tindakan memilih tersebut dapat membangun komitmen sebagai tanggung jawab atas apa yang telah dipilih dan pada akhirnya akan meningkatkan kinerja ( Kadek dan I Ketut : 2009 ). Oleh karena itu partisipasi penganggaran memiliki peran penting dalam menentukan arah kebijakan  dan kinerja manajerial.
Penelitian tentang partisipasi anggaran dengan kinerja manajerial sebelumnya telah  dilakukan oleh Jaqueline tangkau (2009), Dr.Melek Eker (2007), Bambang Osmad (2008), melakukan pengujian partisipasi anggaran dan kinerja manajerial dengan komitmen organisasi dimana variable tersebut berpengaruh positif secara signifikan, namun pada penelitian Kadek dan I ketut Suryanawa ( 2010) hasilnya tidak signifikan dimana komitmen organisasi tidak mampu perkuat hubungan antara partisipasi anggaran dan kinerja manajerial.
Berbeda pada penelitian Milani (1975), EviYuniarti (2008) yang ternyata ditemukan hasil yang tidak signifikan antara partisipasi anggaran dan kinerja manajerial.
Beberapa penelitian mengenai hubungan antara TQM dengan kinerja sudah dilakukan I Made Rani (2003), Dwi Suhartini (2007), Hiras Pasaribu (2009) dan berpengaruh positif dan signifikan. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa melalui penerapan TQM yang meningkat dapat meningkatkan kinerja manajerial
Berdasarkan uraian tersebut di atas, penulis tertarik untuk menelitihal tersebut dalam penelitian berjudul : Pengaruh Implementasi Total Quality Management (TQM) dan Partisipasi Penyusunan Anggaran Terhadap Kinerja Manajerial dengan Komitmen Organisasi Sebagai Variabel Moderating (Studi Empiris Pada Perusahaan Manufaktur XYZ di Jakarta)”.
B.     Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, masaalah yang ingin diteliti penulis dapat dirumuskan dalam bentuk pertanyaan sebagai berikut :
1.      Apakah Total Quality Management berpengaruh terhadap kinerja manajerial ?
2.      Apakah partisipasi penyusunan anggaran berpengaruh terhadap kinerja manajerial
3.      Apakah interaksi Total Quality Management dan komitmen organisasi berpengaruh terhadap kinerja manajerial ?
4.      Apakah partisipasi penyusunan anggaran dan komitmen organisasi berpengaruh terhadap kinerja manajerial ?
C.    Tujuan Penelitian
Berdasarkan perumusan masalah penelitian ini mempunyai tujuan sebagai berikut
1.      Untuk menganalisis pengaruh Total Quality Management terhadap kinerja manajerial.
2.      Untuk menganalisis pengaruh partisipasi penyusunan anggaran terhadap kinerja manajerial.
3.      Untuk menganalisis pengaruh Total Quality Management dan komitmen organisasi terhadap kinerja manajerial.
4.      Untuk menganalisis pengaruh partisipasi penyusunan anggaran dan komitmen organisasi terhadap kinerja manajerial.
D.    Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan memiliki manfaat bagi pihak-pihak yang berkepentingan yaitu :.
a.       Kontribusi Teoritis
1)      Bagi peneliti,
Yaitu guna  memperluas pengetahuan dan pengalaman di bidang akuntansi manajemen untuk mengimplementasikan ilmu yang didapat di bangku kuliah melalui praktik dalam penelitian ini serta sebagai syarat penyelesaian tugas akhir kuliah untuk dapatkan gelar sarjana ekonomi akuntansi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta .
2)      Bagi mahasiswa program studi akuntansi,
Yaitu guna menambah wawasan dan pengetahuan tentang ilmu akuntansi manajemen, sehingga dapat mengetahui seberapa besar pengaruh Total Quality Management dan  partisipasi penganggaran terhadap kinerja manajerial dengan komitmen organisasi sebagai variabel moderating
3)      Masyarakat
Menambah literatur dan acuan penelitian pada bidang akuntansi manajemen, terutama untuk peneliti yang ingin melakukan penelitian lebih lanjut mengenai pengaruh Total Quality Management dan patisipasi penganggaran terhadap kinerja manajerial dengan komitmen organisasi sebagai variabel moderating.
b.      Kontribusi Praktis
1)      Bagi Perusahaan ,
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan informasi  dan bahan pertimbangan kepada pihak perusahaan dalam menerapkan partisipasi penyusunan anggaran dan Total Quality Management dalam peningkatan kinerja manajerial.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A.    Tinjauan  Teoritis
1.   Total Quality Management ( TQM)
a. Sejarah dan Pengertian TQM
            Total Quality Management dalam istilah Bahasa Indonesia disebut manajemen mutu terpadu dan juga disebut manajemen kualitas terpadu. Hamper lema decade yang lalu istilah TQM telah tumbuh dan berkembang. Semula ide TQM muncul pertama kali di Amerika Serikat, tetapi kemudian diorganisasikan dan dilaksanakan dibeberapa perusahaan Jepang. Dua orang pakar TQM, baik di Jepang maupun di Ameriak Serikat adalah W. Edward dan Josept. M. Juran.
Peran deming terutama mengajarkan betapa pentingnya pihak manajemen suatu perusahaan harus bertanggung jawab penuh dalam penerapan sistem kualitas produk secara total dalam menghasilkan produkyang baik dan tidak cacat. Maka, deminglah yang pertama mengintroduksi TQM dengan mencegah terjadinya produk cacat (defect product)
 TQM merupakan satu sistem yang saat ini mulai diterapkan oleh perusahaan-perusahaan karena dianggap mampu mendukung kinerja manajerialnya. . Menurut Ishikawa dalam  Nasution (200522) “TQM diartikan sebagai perpaduan semua fungsi manajemen, semua bagian dari suatu perusahaan dan semua orang ke dalam falsafah holistik yang dibangun berdasarkan konsep kualitas, team work, produktivitas, dan kepuasan pelanggan”.
 TQM merupakan teknik dimana manajemen mengembangkan kebijakan-kebijakan dan praktik-praktik untuk meyakinkan bahwa produk dan jasa perusahaan memenuhi harapan pelanggan (Blocher et al, 2000 dalam Dwi Suhartini,2007).
TQM merupakan suatu pendekatan dalam meenjalankan usaha yang mencoba memaksimumkan daya saing organisasi melalui perbaikan terus menerus atas produk, jasa, tenaga kerja, proses dan lingkungan ( Tjiptono dan Diana, 2001
TQM memiliki tujuan perbaikan kualitas terus menerus, disesuaikan dengan perubahan yang menyangkut kebutuhan, keinginan dan selera konsumen.  yang juga akan meningkatkan laba dan daya saing perusahaan. Dengan demikian TQM diawali dengan memahami apa yang diinginkan konsumen terhadap produk tertentu, dan kepuasan konsumen adalh inti kegiatan TQM. (Singgih Santono, 2007:2)
Yang membedakan TQM dengan pendekatan-pendekatan lain dalam menjalankan  adalah komponen bagaimana tersebut. Komponen ini memiliki sepuluh unsur utama yaitu fokus pada pelanggan, obsevasi terhadap kualitas, pendekatan ilmiah, komitmen jangka panjang, kerja sama tim, perbaikan system secara berkesinambungan, pendidikan dan pelatihan, kebebasan yang terkendali, kesatuan tujuan dan keterlibatan dan pemberdayaan karyawan. (Goetsh& Davis 1994 dalam Tiptono dan Diana 2001:15-16 ).
b. Manfaat TQM
Menurut (Nasution,2005:42)  manfaat TQM dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu dapat memperbaiki posisi persaingan dan meningkatkan keluaran yang bebas dari kerusakan
Adapun keunggulan perusahaan yang menerapkan TQM adalah:
1) TQM mengembangkan konsep kualitas dengan pendekatan totalitas. Kualitas  bila dipandang dari sudut pandang konsumen diartikan sebagai kesesuaian.
2)   Adanya perubahan dan perbaikan secara terus-menerus dengan menerapkanTQM perusahaan dituntut untuk selalu belajar dan berubah memperbaiki atau meningkatkan kemampuannya,
3)   Adanya upaya pencegahan artinya sejak dari perancangan produk, proses   produksi hingga menjadi produk akhir menghasilkan produk yang baik tanpa ada produk yang cacat  (zero defect) sehingga perusahaan mampu mengurangi biaya (cost reduction), menghindari pemborosan dan menghasilkan produk secara efektif dan efisien dan pada akhirnya dapat meningkatkan profit bagi perusahaan.
c.  Karakteristik dan Prinsip Total Quality Management
            TQM merupakan suatu konsep yang berupaya melaksanakan sistem manajemen kualitas tingkat dunia. Untuk itu diperlukan perubahan besar dalam budaya dan sistem nilai suatu organisasi (I Made dan Rani:2003). Menurut Hansler dan Brunell (dalamTjiptono dan Diana,2001:14) ada empat prinsip utama dalam TQM, yaitu:
1)      Kepuasan Pelanggan
2)      Respek terhadap setiap orang
3)      Manajemen berdasaarkan fakta
4)      Perbaikan berkesinambungan
Manfaat TQM adalah memperbaiki kinerja manajerial dalam mengelola perusahaan agar dapat meningkatkan penghasilan perusahaan.
Ada sepuluh karakteristik TQM yang dikembangkan oleh Goetsch dan Davis dalam Nasution (2005:22-24) .
1)      Fokus Pada Pelanggan
   Dalam TQM, baik pelanggan internal maupun pelanggan eksternal merupakan driver.  Pelanggan eksternal menentukan kualitas produk atau jasa yang disampaikan kepada mereka, sedangkan pelanggan internal berperan besar dalam menentukan kualitas tenaga kerja, proses, dan lingkungan yang berhubungan dengan produk atau jasa.
2)      Obsesi terhadap Kualitas
   Dalam organisasi yang menerapkan TQM, pelanggan internal dan eksternal menentukan kualitas.  Dengan kualitas yang ditetapkan tersebut, organisasi harus terobsesi untuk memenuhi atau melebihi apa yang ditentukan mereka.  Hal ini berarti bahwa semua karyawan pada setiap level berusaha melaksanakan setiap aspek pekerjaannya berdasarkan perspektif.  Bila suatu organisasi terobsesi dengan kualitas, maka berlaku prinsip ‘good enough is never good enough’.
3)      Pendekatan Ilmiah
   Pendekatan ilmiah sangat diperlukan dalam penerapan TQM, terutama untuk mendesain pekerjaan dan dalam proses pengambilan keputusan dan pemecahan masalah yang berkaitan dengan pekerjaan yang didesain tersebut.  Dengan demikian, data diperlukan dan dipergunakan dalam menyusun patok duga (benchmark), memantau prestasi, dan melaksanakan perbaikan.
4)      Komitmen Jangka Panjang
   TQM merupakan suatu paradigma baru dalam melaksanakan bisnis.  Untuk itu, dibutuhkan budaya perusahaan yang baru pula.  Oleh karena itu, komitmen jangka panjang sangat penting guna mengadakan perubahan budaya agar penerapan TQM dapat berjalan dengan sukses.
5)      Kerjasama Tim (Teamwork)
   Dalam organisasi yang dikelola secara tradisional seringkali diciptakan persaingan antar departemen yang ada dalam organisasi tersebut agar daya saingnya terdongkrak.  Sementara itu, dalam organisasi yang menerapkan TQM, kerjasama tim, kemitraan, dan hubungan dijalin dan dibina, baik antar karyawan perusahaan maupun dengan pemasok, lembaga-lembaga pemerintah, dan masyarakat sekitarnya.
6)      Perbaikan Sistem Secara Berkesinambungan
   Setiap produk dan atau jasa dihasilkan dengan memanfaatkan proses-proses tertentu di dalam suatu sistem/ lingkungan.  Oleh karena itu, sistem yang ada perlu diperbaiki secara terus-menerus agar kualitas yang dihasilkannya dapat makin meningkat.
7)      Pendidikan dan Pelatihan
   Dewasa ini masih terdapat perusahaan yang menutup mata terhadap pentingnya pendidikan dan pelatihan karyawan.  Kondisi seperti itu menyebabkan perusahaan yang bersangkutan tidak berkembang dan sulit bersaing dengan perusahaan lainnya, apalagi dalam era persaingan global.  Sedangkan dalam organisasi yang menerapkan TQM, pendidikan dan pelatihan merupakan faktor yang fundamental.  Setiap orang diharapkan dan didorong untuk terus belajar.  Dengan belajar, setiap orang dalam perusahaan dapat meningkatkan keterampilan teknis dan keahlian profesionalnya.
8)      Kebebasan yang Terkendali
   Dalam TQM, keterlibatan dan pemberdayaan karyawan dalam pengambilan keputusan dan pemecahan masalah merupakan unsur yang sangat penting.  Hal ini dikarenakan unsur tersebut dapat meningkatkan ‘rasa memiliki’ dan tanggung jawab karyawan terhadap keputusan yang telah dibuat.  Meskipun demikian, kebebasan yang timbul karena keterlibatan dan pemberdayaan tersebut merupakan hasil dari pengendalian yang terencana dan terlaksana dengan baik.
9)      Kesatuan Tujuan
   Supaya TQM dapat diterapkan dengan baik, maka perusahaan harus memiliki kesatuan tujuan.  Dengan demikian, setiap usaha dapat diarahkan pada tujuan yang sama.  Akan tetapi, kesatuan tujuan ini tidak berarti bahwa harus selalu ada persetujuan/ kesepakatan antara pihak manajemen dan karyawan, misalnya mengenai upah dan kondisi kerja.
10)  Adanya Keterlibatan dan Pemberdayaan Karyawan
   Keterlibatan dan pemberdayaan karyawan dapat meningkatkan kemungkinan dihasilkannya keputusan yang baik, rencana yang baik, atau perbaikan yang lebih efektif, karena juga mencakup pandangan dan pemikiran dari pihak-pihak yang langsung berhubungan dengan situasi kerja serta meningkatkan ‘rasa memiliki’ dan tanggung jawab atas keputusan dengan melibatkan orang-orang yang harus melaksanakannya
2. Partisipasi Penganggaran
a. Pengertian Anggaran
 Anggaran ( Budget ) merupakan rencana tertulis mengenai kegiatan suatu organisasi yang dinyatakan secara kuantitatif dan umumnya dinyatakan dalam satuan uang untuk jangka waktu tertentu ( M.Nafarin , 2004 :12).
Menurut Justine T.Sirait (2008), Anggaran ( kata benda) adalah hasil yang diperoleh setelah menyelesaian fungsi perencanaan, sedangkan budgeting adalah suatu proses, yakni mulai dari tahap persiapan penyusunan rencana, pengumpulan data dan informasi yang diperlukan, pembagian tugas perencanaan, penyusunan rencana itu sendiri, Implementasi rencana sampai pada tahap pengendalian, dan evaluasi hasil pelaksanaan rencana.
Terdapat beberapa jenis anggaran yang diungkapkan Anthony dan Govindarajan (2005:80-81) meliputi:
1) Anggaran Operasi
2) Anggaran Modal
3) Anggaran Neraca
4)  Anggaran Laporan Arus Kas
Secara garis besar, penyusunan anggaran dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu:
1) Top down approach (bersifat dari atas ke bawah)
Dalam penyusunan anggaran ini, manajemen senior menetapkan anggaran bagi tingkat yang lebih rendah sehingga pelaksana anggaran hanya melakukan apa saja yang telah disusun.
2)  Bottom up approach (bersifat dari bawah ke atas)
Anggaran sepenuhnya disusun oleh bawahan dan selanjutnya diserahkan atasan untuk mendapatkan pengesahan. Dalam pendekatan ini, manajer tingkat yang lebih rendah berpartisipasi dalam menentukan besarnya anggaran.
3) Kombinasi top down dan bottom up
Kombinasi antara kedua pendekatan inilah yang paking efektif. Pendekatan ini menekankan perlunya interaksi antara atasan dan bawahan secara bersama sama menetapkan anggaran yang terbaik bagi perusahaan.
b. Manfaat-Manfaat Anggaran
       Anggaran merupakan bagian penting dari sistem pengendalian manajemen. Menurut Horgren et.all (2008:215) jika dikelola secara baik, sebuah anggaran akan :
1)      Mendorong perencanaan strategis dan pengimplementasian rencana tersebut.
2)      Menjadi kerangka kerja untuk menilai kinerja.
3)      Memotivasi para manajer dan karyawan
4)      Meningkatkan koordinasi dan komunikasi di antara berbagai subunit dalam perusahaan.
Menurut Anthony dan Govindarajan (2005:75) fungsi anggaran antara lain menyelaraskan rencana strategis, membantu pengoordinasian aktivitas dari beberapa organisasi, pendelegasian tanggung jawab kepada manajer, dan memperoleh komitmen yang merupakan dasar untuk mengevaluasi.
c. Kelemahan Anggaran
Meskipun penyusunan anggaran banyak bermanfaat tetapi masih terdapat kelemahan-kelemahan yang membatasi anggaran. Menurut Hansen dan Mowen (2007:336), kelemahan-kelemahan anggaran antara lain:
1)   Anggaran disusun berdasarkan taksiran-taksiran (forecasting). Betapapun cermatnya taksiran tersebut dibuat namun amatlah sulit untuk medapatkan taksiran yang benar-benar akurat dan kemudian sama sekali tidak berbeda dengan kenyataannya nanti.
2)   Taksiran-taksiran dalam anggaran disusun dengan mempertimbangkan berbagai data, informasi, dan faktor-faktor baik yang contrallable maupun yang uncontrollable. Dengan demikian, jika nantinya terjadi perubahan-perubahan terhadap data, informasi serta faktor-faktor tersebut akan merubah pula ketetapan taksiran-taksiran yang telah disusun tersebut.
3)   Berhasil atau tidaknya pelaksanaan (realisasi) anggaran sangat tergantung pada manusia-manusia pelaksananya. Anggaran yang baik tidak akan bisa direalisasikan bilamana para pelaksananya tidak mempunyai keterampilan serta kecakapan yang memadai.
d. Partisipasi Anggaran
Partisipasi anggaran adalah tingkat seberapa jauh keterlibatan dan pengaruh individu (manajer) dalam proses penyusunan anggaran yang ada di dalam divisi  atau suatu instansi  untuk melakukan kegiatan dalam pencapaian sasaran yang telah ditetapkan dalam anggaran ( Bambang dan Osmad, 2008:45)
Partisipasi penganggaran adalah keikutsertaan para manajer tingkat bawah untuk ikut serta dalam proses pembuatan anggaran. Biasanya, tujuan umum dikomunikasikan ke manajer, yang membantu mengembangkan anggaran yang akan memenuhi tujuan-tujuan tersebut (Hansen Mowen 2007:335)
Penyusunan anggaran partisipatif adalah sangat menguntungkan untuk pusat tanggung jawab yang beroperasi dalam lingkungan yang dinamis dan tidak pasti karena manajer yang bertanggung jawab atas pusat tanggung jawab semacam itu kemungkinan besar memiliki informasi terbaik mengenai variabel yang mempengaruhi pendapatan dan beban mereka (Anthony dan Govindarajan (2005: 87)
Menurut Anthony dan Govindarajan (2005: 87), partisipasi dalam penyusunan anggaran memiliki dampak positif karena dua alasan:
1)   Kemungkinan ada penerimaan yang lebih besar atas cita-cita anggaran jika anggaran dipandang berada dalam kendali pribadi manajerdibandingkan bila secara eksternal.
2)      Hasil penyusunan anggaran partisipatif adalah pertukaran informasi yang efektif.
Proses penyusunan anggaran merupakan kegiatan yang penting dan melibatkan berbagai pihak baik manajer tingkat atas maupun manajer tingkat bawah (desentralisasi ) yang akan mainkan peranan dalam  mempersiapkan dan mengevaluasi berbagai alternatif dari tujuan anggaran, dimana anggaran senantiasa digunakan sebagai tolak ukur kinerja manajer
3.      Kinerja Manajerial
Kinerja merupakan faktor penting yang digunakan dlaam pengukuran efektifitas dan efisiiensi organisasi. Menurut Berbardin dan Russel dan Russel dalam( Achmad S Ruki, 2001;15) “ Performance is defined as the record of outcomes produces produced on a specified time period” (Kinerja adalah catatan tentang hasil-hasil yang diperoleh dari fungsi-fungsi pekerjaan tertentu atau kegiatan tertentu selama kurun waktu tertentu).
            Sedangkan menurut Mahoney dalam (Aida dan listiningsih:2005) kinerja adalah hasil kerja yang daapat dicapai oleh seseorang atau sekelompok orang dalam suatu organisasi, sesuai dengan wewenang dan tanggung jawab masing-masing, dalam rangka mencapai tujuan organisasi.
Kinerja manajerial adalah kinerja para individu dalam kegiatan manajerial sehingga kinerja manajerial adalah salah satu faktor yang dapat meningkatkan efektifitas organisasional.
Kinerja personel meliputi delapan demensi yaitu:
1) perencanaan, dalam arti kemampuan untuk menentukan tujuan, kebijakan dan tindakan/pelaksanaan, penjadwalan kerja, penganggaran, merancang prosedur, dan pemrograman.
2)  investigasi, yaitu kemampuan mengumpulkan dan menyampaikan informasi untuk catatan, laporan, dan rekening, mengukur hasil, menentukan persediaan, dan analisis pekerjaan
3) pengkoordinasian, yaitu kemampuan melakukan tukar menukar informasi dengan orang lain di bagian organisasi yang lain untuk mengkaitkan dan menyesuaikan program, memberitahu bagian lain, dan hubungan dengan manajer lain.
4) evaluasi, yaitu kemampuan untuk menilai dan mengukur proposal, kinerja yang diamati atau dilaporkan, penilaian pegawai, penilaian catatan hasil, penilaian laporan keuangan, pemeriksaan produk.
5) pengawasan (supervisi), yaitu kemampuan untuk mengarahkan, memimpin dan mengembangkan bawahan, membimbing, melatih dan menjelaskan peraturan kerja pada bawahan, memberikan tugas pekerjaan dan menangani bawahan.
6) pengaturan staff (staffing), yaitu kemampuan untuk mempertahankan angkatan kerja dibagian anda, merekrut, mewawancarai dan memilih pegawai baru, menempatkan, mempromosikan dan mutasi pegawai.
7)  negosiasi, yaitu kemampuan dalam melakukan pembelian, penjualan atau melakukan kontrak untuk barang dan jasa, menghubungi pemasok, tawar menawar dengan wakil penjual, tawar-menawar secara kelompok.
8)  perwakilan (representatif), yaitu kemampuan dalam menghadiri pertemuanpertemuan dengan perusahaan lain, pertemuan perkumpulan bisnis, pidato untuk acara-acara kemasyarakatan, pendekatan kemasyarakatan, mempromosikan tujuan umum perusahaan
Tujuan utama penilaian kinerja dalah untuk memotivasi personil dalam mencapai sasaran organisasi dan dalam memahami standard.
4.      Komitmen Organisasi
Komitmen organisasi didefinisikan sebagai dorongan dari dalam diri individu untuk melakukan sesuatu agar dapat menunjang keberhasilan organisasi sesuai dengan tujuan yang ditetapkan dan lebih mengutamakan kepentingan organisasi diabndingkan dengan kepentingannya sendiri (Wiener dalam Evi Yuniarti dan Fadilla:2008).
Bagi individu dengan komitmen organisasi yang tinggi, pencapaian tujuan organisasi merupakan hal yang diprioritaskan. Individu dengan komitmen organisasi yang kuat dalam dirinya akan berusaha keras untuk mencapai tujuan organisasi serta berbuat yang terbaik demi kepentingan organisai. Sebaliknya, individu dengan komitmen organisasi yang rendah akan mempunyai perhatian yang rendah dalam pencapaian tujuan organisasi dan cenderung berusahan memenuhi kepentingan pribadinya. (Kadek dan I ketut:2010)
B.     Keterkaitan Antar Variabel dan Hipotesis Penelitian
1. Hubungan Total Quality Management dan Kinerja Manajerial
Perusahaan yang menetapkan TQM akan menghasilkan produk yang sesuai dengan kebutuhan dan keinginan pelanggan, sehingga tidak ada pengulangan  pekerjaan atau pengurangan upah dan pengurangan pemborosan yang pada akhirnya akan meningkatkan kinerja manajerial. Tujuan  perusahaan dalam menghasilkan produk berkualitas adalah tercapainya kepuasan pelanggan yang ditandai dengan berkurangnya keluhan dari pelanggan sehingga dapat meningkatkan kinerja manajerial.
Perusahaan yang berfokus pada perbaikan terus-menerus, melibatkan dan memotivasi karyawan untuk mencapai kualitas output dan fokus pada kepuasan kebutuhan pelanggan lebih mungkin untuk mengungguli perusahaan-perusahaan yang tidak memiliki fokus ini. Dengan demikian, kita dapat berharap bahwa sejauh organisasi menerapkan praktek TQM, kinerja harus meningakat (Therese Joiner, 2007:618).
Berdasarkan penjelasan tersebut, maka hipotesis alternatif yang diajukan dalam penelitian ini adalah:
Ha1     : TQM mempunyai pengaruh yang positif terhadap kinerja manajerial
2.  Hubungan Partisipasi Pengangaran dan Kinerja Manajerial
Anggaran pertisipartif dapat dinilai sebagai pendekatan manajerial yang dapat meningkatkan kinerja setiap anggota organisasi sebagai individual karena dengan adanya partisipasi dalam penyusunan anggaran diharapkan setiap individu mampu meningkatkan kinerjanya sesuai denga target yang telah ditetapkan sebelumnya. (Bambang Osmad, 2008:39)
Menurut Brownell (1982) dalam Bambang Osmad (2008,39) pengaruh anggaran partisipatif pada kinerja manajerial merupakan tema pokok yang menarik dalam penelitian akuntansi manajemen. Hal ini disebabkan karena partisipasi umumnya dinilai sebagai suatu pendekatan manajerial yang dapat meningkatkan kinerja anggota organisasi.
Berdasarkan penjelasan tersebut , rumusan hipotesis penelitian adalah:
Ha2     : Partisipasi penyusunan anggaran berpengaruh secara positif dan signifikan pada kinerja manajerial.
3.   Hubungan Komitmen Organisasi dan TQM terhadap Kinerja Manajerial
Komitmen yang tinggi akan nyata dalam kesuksesan penerapan TQM apabila kompetensi yang sesuai dapat merealisasikannya. Berhasil atau tidaknya penerapan TQM sangat ditentukan dorongan komitmen pimpinan puncak untuk bersinerji dengan persepsi manajer divisi. (Hiras Pasaribu:2009:68).
H3       : Komitmen Organisasi mempunyai pengaruh terhadap hubungan antara TQM terhadap kinerjamanajerial yang positif bila komitmen organisasi kuat dan negative bila komitmen organisasi lemah
4.  Hubungan Komitmen Organisasi dan Partisipasi Anggaran Terhadap Kinerja Manajerial
Salah satu fungsi dari partisipasi anggaran adalah sebagai sarana komunikasi antara bawahan dan atasan , tidak hanya seputar seputar masalah anggaran, tetapi juga isu masalah lain yang berkaitan. Partisipasi anggaran memungkinkan bawahan untuk bertukar dan mencari informasi dari atasan mereka, yang tentunya juga akan mendukung terciptanya pemahaman yang lebih mendalam mengenai proses penentuan anggaran dan urusan keorganisasian lain. (Jaqueline,2009:296).
Kecukupan  anggaran tidak secara langsung meningkatkan prestasi kerja, tetapi juga secara tidak langsung (moderasi) melalui komitmen organisasi. (Bambang Osmad:2008:40)
Komitmen organisasi yang kuat akan mendorong para manajer bawah berusaha keras mencapai tujuan organisasi (Angel dan Perry dalam Bambang Osmad:2008:40) dan  menjadikan individu lebih mementingkan organisasi dibanding kepentingan pribadi dan berupaya untuk menjalankan organisasi menjadi lebih baik.  
Berdasarkan penjelasan tersebut , rumusan hipotesis penelitian adalah:
Ha4 : Komitmen Organisasi mempunyai pengaruh terhadap hubungan antara Partisipasi penyusunan anggaran terhadap kinerja manajerial yang positif bila komitmen organisasi kuat dan  negatif bila komitmen organisasi lemah
C.    Penelitian- Penelitian Terdahulu
Dalam penelitian ini disebutkan beberapa hasil penelitian penelitian sebelumnya sebagai acuan dalam studi ini. Beberapa penelitian terdahulu yang menghubungkan TQM dengan kinerja manajerial serta partisipasi anggaran dengan kinerja manajerial yang menjadi referensi penelitiian ini dapat dirangkum pada tabel dibawah ini dengan keterangan simbol :


D.    Kerangka Pemikiran
Untuk memperoleh keunggulan daya saing dunia dalam bisnis, harus mampu menyajikan setiap proses yang lebih baik dalam rangka menghasilkan produk berkualitas dengan harga wajar dan mampu bersaing. Strategi penting guna meningkatkan daya saing adalah melalui kualitas, dalam hal ini Total Quality Management. Total Quality management bertujuan untuk menghasilkan produk berkualitas guna tercapainya kepuasan pelanggan yang ditandai dengan berkurangnya komplain pelanggan. Hal ini berarti menunjukan kinerja yang semakin meningkat.
Partisipasi anggaran berarti sebagai keikutsertaan manager dan staff dalam penyusunan anggaran. Semakin tinggi tingkat partisipasi secara umum dapat tingkatkan kinerja yang akhirnya dapat mendukung tercapainya tujuan perusahaan baik segi keuntungan ekonomi dan efektifitas organisasi
Kerangka pikir penelitian menggambarkan hubungan dari variable independen dalam hal ini adalah TQM (X1), Partisipasi Anggaran (X2) , terhadap variable dependent yaitu Kinerja Manajerial (Y) dengan variable moderating berupa Komitmen Organisasi (X3).   
SKEMA KERANGKA PEMIKIRAN :
 Pengaruh Implementasi Total Quality Management dan Partisipasi Penyusunan Anggaran Terhadap Kinerja Manajerial dengan Komitmen Organisasi sebagai Variabel Moderating (Studi Empiris pada Perusahaan Manufaktur XYZ  diJakarta)
Metode Analisis :
Model Regresi Linear Sederhana dan Regresi Linear Berganda (MRA)
             Variabel Independen                                                   Variabel Dependen
TQM (X1)
Therese A Joire (2007)
Dwi Suhartini (2007)
Hiras Pasaribu (2009)
I Made Narsa dan Rani DY (2003)
KINERJA MANAJERIAL (Y)
Therese A Joire (2007)
Dwi Suhartini (2007)
Hiras Pasaribu (2009)
I Made Narsa dan Rani DY (2003)
Jaqueline Tangkau (2009)
Dr. Elek Meker (2007)
Bambang Sarjito&Osmad (2008)
Yuniarti dan FadilahEvi (2008)
KOMITMEN ORGANISASI (X3)
Dr. Elek Meker (2007)
Hiras Pasaribu (2009)
Jaqueline Tangkau (2009)
Bambang Sarjito&Osmad Muthaher (2008)
PARTISIPASI ANGGARAN (x2)
Jaqueline Tangkau (2009)
Dr. Elek Meker (2007)
Bambang Sarjito&Osmad (2008)
Yuniarti dan FadilahEvi (2008)
V.MODERATING
Fenomena-Fenomena  dasar implementasi TQM dan Partisipasi Anggaran ( Era pasar bebas, AFTA – ACFTA)
 

BAB III
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A.    Ruang Lingkup Penelitian
Dalam melaksanakan penelitian ini, penulis menggunakan metode deskriptif komparatif yaitu metode dalam meneliti sekelompok manusia, suatu objek, suatu kondisi, suatu system pemikiran ataupun suatu peristiwa. Data diperoleh dari hasil survey dan menggunakan daftar pertanyaan (questioner) sebagai alat pengumpul data pokok, diproses kemudian dianalisis serta diinterpretasikan dengan menggunakan teori yang ada.                                           Penelitian ini dirancang sebagai salah satu penelitian empiris yang menguji hipotesis dengan menggunakan metode korelasional. Untuk memudahkan dalam melakukan penelitian yang berhubungan dengan masalah yang diteliti, penulis melakukan pendekatan studi kasus. Dengan pendekatan ini, data yang dikumpulkan dapat disesuaikan dengan keadaan yang sebenarnya dan dibandingkan dengan teori yang menunjang. Dengan demikian, dapat memberikan gambaran yang jelas serta dapat menarik kesimpulan dari objek yang akan diteliti.             Adapun objek penelitian adalah implementasi TQM, Partisipasi penganggaran, komitmen organisasi dan kinerja manajerial.
B.     Populasi dan Teknik Pengambilan Sampel.
         Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah seluruh manajer, kepala bagian/divisi, supervisor dan staff yang  terlibat dalam proses penyusunan anggaran dan implementasi TQM pada PT.XYZ, perusahaan manufaktur di Jakarta.
         Sampel merupakan sebagian dari populasi. Sampel terdiri atas sejumlah anggota yang dipilih dari populasi (Sekaran, 2006). Pemilihan sampel dalam penelitian ini didasarkan  pada  purposive sampling. Sampel dipilih berdasarkan kriteria tertentu sehingga dapat mendukung penelitian ini.
Sedangkan kriteria pemilihan sampel tersebut adalah:
1.      Merupakan karyawan tetap perusahaan XYZ
2.      Terlibat baik langsung maupun tak langsung terhadap implementasi TQM dan dalam proses penyusunan anggaran
3.      memiliki masa kerja minimal satu tahun dalam periode penyusunan anggaran
C.    Metode Pengumpulan Data
Jenis penelitian ini adalah survei dengan pendekatan kuantitatif. Prosedur pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan data primer yang dikumpulkan dengan mengirimkan kuesioner kepada responden dengan Teknik pengumpulan data adalah sebagai berikut:
1.    Penelitian Lapangan  (Field  Research)
Dilakukan untuk memperoleh data primer dengan melakukan:
a.       Wawancara, yaitu dengan  mengadakan  tanya jawab dengan pihak yang berwenang untuk mendapatkan gambaran umum mengenai perusahaan dan masalah yang berhubungan dengan implementasi TQM dan partisipasi penganggaran serta kinerja perusahaan.
b.      Kuesioner, yaitu dengan  memberikan daftar pertanyaan yang diharapkan dijawab untuk mempermudah pengumpulan data dan efisiensi waktu.
2.    Penelitian Kepustakaan ( Library Research )
Dilakukan untuk memperoleh data dengan meneliti dan mempelajari literatur, karya ilmiah, dan sumber-sumber bacaan lain yang berkaitan dengan masalah yang diteliti untuk mendapatkan landasan teori
D.    Metode Analisis Data
Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah statistik deskriftif, uji kualitas data, uji asumsi klasik dan uji hipotesis.
  1. Statistik Deskriftif
Statistik deskripstif memberikan gambaran atau deskripsi suatu data yang dilihat dari nilai rata-rata (mean), standar deviasi, varian, maksimum, minimum, sum, range, kurtosis dan skewness (kemencengan distribusi) (Ghozali, 2009:19).
  1. Uji Kualitas Data
Untuk melakukan uji kualitas data atas data primer ini, maka peneliti melakukan uji validitas dan reliabilitas.
a.       Uji Validitas
Pengujian ini dilakukan untuk mengukur sah atau validnya suatu kuesioner. Suatu kuesioner dikatakan valid jika pertanyaan pada kuesioner mampu mengungkapkan sesuatu yang akan diukur oleh kuesioner tersebut. Pengujian ini dilakukan dengan menggunakan Pearson Correlation yaitu dengan cara menghitung korelasi antar skor masing-masing butir pertanyaan dengan total skor (Ghozali, 2009:49). Kriteria valid atau tidak adalah jika korelasi antar skor masing masing butir pertanyaan dengan total skor mempunyai tingkat signifikan dibawah 0,05 maka butir pertanyaan tersebut dapat dikatakan valid, dan jika korelasi skor masing masing butir pertanyaan dengan total skor mempunyai tingkat signifikan diatas 0,05 maka butir pertanyaan tersebut tidak valid  (Ghozali, 2009:49).
b.      Uji Reliabilitas
Uji reliabilitas adalah untuk mengukur suatu kuesioner yang merupakan indikator dari variabel atau konstruk (Ghozali, 2009:45). Suatu kuesioner dikatakan reliable atau handal jika jawaban seseorang terhadap pernyataan tersebut konsisten atau stabil dari waktu ke waktu.
Untuk mengukur reliabilitas digunakan uji statistik Cronbach Alfa (α). Suatu variable dikatakan reliable jika memberikan nilai Cronbach’s  Alfa > 0,60. sedangkan, jika sebaliknya data tersebut dikatakan tidak reliable (Ghozali, 2009:45-46).
  1. Uji Asumsi Klasik
Untuk melakukan uji asumsi klasik atas data primer ini, maka peneliti melakukan uji multikolonieritas, uji normalitas dan uji heteroskedastisitas.
a.       Uji Multikolinearitas
Uji Multikolinearitas bertujuan untuk menguji apakah model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel independen. Uji multikolonieritas dilihat dari nilai tolerance dan Variance Inflantion Factor (VIF) (Ghozali, 2009:95). Jika terjadi korelasi, maka dinamakan terdapat problem multikoliniearitas (multiko). Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi di antara variabel independen. Uji multikolonieritas dilihat dari nilai tolerance dan Variance Inflantion Factor (VIF) serta besaran korelasi antar variabel independen (Ghozali, 2009:95).
b.      Uji Heterokedasitas
Uji heteroskedastisitas bertujuan untuk menguji apakah dalam suatu model regresi terjadi ketidaksamaan variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain (Ghozali, 2009:125). Uji heteroskedastisitas dapat dilihat dengan menggunakan grafik plot antara nilai prediksi variabel terikat (ZPRED) dengan residual (SRESID). Jika grafik plot menunjukkan suatu pola titik seperti titik yang bergelombang atau melebar kemudian menyempit, maka dapat disimpulkan bahwa telah terjadi heteroskedastisitas. Tetapi jika grafik plot tidak membentuk pola yang jelas, maka tidak terjadi heteroskedastisitas (Ghozali, 2009:125-126).
b.      Uji Normalitas
Uji normalitas bertujuan untuk mengukur apakah di dalam model regresi variabel independen dan variabel dependen keduanya mempunyai distribusi normal atau mendekati normal
4.      Uji Hipotesis
Pengujian hipotesis dimaksudkan untuk mengetahui ada atau tidaknya pengaruh  Total Quality Management dan partisipasi penganggaran terhadap kinerja manajerial dengan komitmen organisasi sebagai variabel moderating.  Metode statistik yang digunakan untuk menguji hipotesis pertama (Ha1)  dan hipotesis kedua (Ha2) adalah regresi linier sederhana (simple linear regression). Sementara pengujian hipotesis ketiga (Ha3) dan keempat (Ha4) akan dilakukan dengan Moderated Regression Analyisis (MRA) yang merupakan aplikasi khusus regresi linear berganda dengan bantuan perangkat lunak SPSS 17.
Rumus model analisis data hipotesis pertama (Ha1) dan hipotesis kedua (Ha2) adalah menggunakan regresi linier sederhana (simple linear regression):
      
Y = α + β1.XTQM + e  ...........................................................................  (1)
Y = α + β2.XPP + e  ..............................................................................  (2)
Rumus model analisis data hipotesis ketiga dan keempat (Ha3-Ha4) adalah Moderated Regression Analysis (MRA):
Y  = α + β1.XTQM + β3.XKO + β4XPP.XKO + e........................................ (3)
Y  = α + β2.XPP + β3.XKO + β5XPP.XKO + e........................................... (4)
Keterangan:
Y adalah Kinerja Manajemerial
α adalah kostanta
β1- β5 adalah koefesien regresi
XTQM adalah Total Quality Management
XPP adalah partisipasi penganggaran
XKO adalah  komitmen organisasi
XPP.XKO adalah interaksi partisipasi penganggaran dan komitmen organisasi
XTQM.XKO adalah interaksi Total Quality Management dan Komitmen Organisasi
e  adalah error
Dalam uji hipotesis ini dilakukan melalui:
a.       Uji Koefisien Determinasi (R2)
Koefisien Determinasi (R²) pada intinya mengukur seberapa jauh kemampuan model dalam menerangkan variasi variabel dependen (Ghozali, 2009:87). Nilai koefisien determinasi adalah antara 0 (nol) dan 1 (satu). Nilai R² yang kecil berarti kemampuan variabel-variabel independen dalam menjelaskan variasi variabel dependen amat terbatas. Nilai yang mendekati satu berarti variabel-variabel independen memberikan hampir semua informasi yang dibutuhkan untuk memprediksi variasi variabel dependen (Ghozali, 2009:87).   
b.      Uji Statistik t
Uji statistik t menunjukkan seberapa jauh pengaruh satu variabel penjelas atau independen secara individual dalam menerangkan variasi variabel dependen dan digunakan untuk mengetahui ada atau tidaknya pengaruh masing-masing variabel independen secara individual terhadap variabel dependen yang diuji pada tingkat signifikansi 0,05 (Ghozali, 2009:88).
c.       Uji Statistik F
Uji statistik F menunjukkan apakah semua variabel independen atau bebas yang dimasukkan dalam model mempunyai pengaruh secara bersama-sama terhadap variabel dependen atau terikat (Ghozali, 2009:88). Uji statistik F digunakan untuk mengetahui pengaruh semua variabel independen yang dimasukkan dalam model regresi secara bersama-sama terhadap variabel dependen yang diuji pada tingkat signifikan 0,05 (Ghozali, 2009:88). 
E.     Definisi dan Operasional Variabel
Variabel adalah apapun yang dapat membedakan atau membawa variasi pada suatu nilai (Uma Sekaran, 2006). Dalam penelitian  ini, digunakan tiga macam variabel penelitian.
1.      Variabel Independent
Varibel independent  adalah variabel yang mempengaruhi variabel lain baik secara positif maupun negatif (Sekaran, 2006), variabel independen ini merupakan faktor penyebab yang akan mempengaruhi variabel lain sedangkan menurut Sugiono (2007) variabel independen adalah variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab perubahannya atau timbulnya variabel dependen.Variabel Independen dalam bahasa Indonesia sering disebut variabel bebas.                            
Variabel independen yang digunakan dalam penelitian ini adalah TQM dan partisipasi dalam penyusunan anggaran, yang mengukur seberapa jauh karyawan terlibat dalam penyusunan anggaran).
Total quality management (TQM) diartikan sebagai perpaduan semua fungsi manajemen, semua bagian dari suatu perusahaan dan semua orang ke dalam falsafah holistik yang dibangun berdasarkan konsep kualitas, team work, produktivitas, dan kepuasan pelanggan menurut Ishikawa dalam Nasution (2005:  22).
 Variabel  TQM diukur dengan instrument yang dikembangkan oleh Goetsh dan Davis (1994) seperti yang digunakan dalam penelitian Dwi Suhartini (2007) dengan 10 item pertanyaaan berupa skala interval dengan menggunakan skala likert dengan skala rendah (nilai 1) menunjukan bahwa tingkat penerapan RQM rendah, sebaliknya skala tinggi (nilai5) menunjukan tingkat penerapan TQM tinggi. Instrumen ini digunakan untuk mengukur penerapan TQM dalam perusahaan yang terdiri dari 10  indikator yaitu: fokus pelanggan, obsesi terhadap kualitas, pendekatan ilmiah, komitmen jangka panjang, kerjasama tim, perbaikan secara berkesinambungan, pendidikan dan pelatihan, kebebasasan terkendali dan adanya keterlibatan dan pemberdayaan karyawan.
Variabel partisipasi anggaran yang dimaksud dalam penelitian ini adalah tingkat keterlibatan dan pengaruh individu dalam penyusunan anggaran (Brownell (1982) dalam Evi Yuniarti dan Fadila: 2008).Variabel partisipasi anggaran diukur dengan menggunakan instrumen yang dikembangkan oleh Milani (1975) sepeti yang digunakan pada penelitian sebelumnya (Dr. Meler Elek (2007), (Bambang Osmad (2008), Evi Yuniarti dan Fadilah (2008), dimana responden diminta untuk menjawab enam pertanyaan  berupa skala interval dengan memilih skala antara 1 sampai dengan 5. Skala rendah (angka 1) mewakili tingkat partisipasi yang rendah, sedangkan skala tinggi (angka5) mewakili tingkat partisipasi yang tinggi.
Instrumen pertanyaan pada variabel partisipasi anggaran antara lain  mengenai:                
a) seberapa besar keterlibatan para manajer  dalam proses penyusunan anggaran,
b) tingkat kelogisan alasan atasan untuk merevisi usulan anggaran yang  dibuat manajer,
c) besarnya  pangaruh manajer dalam anggaran
d) seberapa besar manajer merasa mempunyai  kontribusi penting terhadap anggaran,
e) intensitas manajer mengajak diskusi tentang anggaran,
f) serta frekuensi atasan meminta pendapat manajer dalam penyusunan anggaran.
2.      Variabel Dependen
Variabel dependen atau variabel terikat menurut Sugiyono (2007) merupakan variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat karena adanya variabel independen atau variabel bebas. menurut Uma Sekaran (2007) Variabel terikat (dependent variable) merupakan variabel yang menjadi perhatian utama peneliti Variabel dependen dalam penelitian ini adalah kinerja manajerial.
Kinerja manajerial sebagai variabel dependen mengukur kinerja yang meliputi delapan  indikator berdasarkan  penelitianyang dikembangkan  Mahoney et al.1963 sepeti yang digunakan pada penelitian sebelumnya Dr. Meler Elek (2007), EviYuniarti (2008), Bambang Osmad (2008), Dwi Suhartini  (2007),  Kadek dan I Ketut Suryanawa (2010) yang meliputi antara lain, perencanaan, investigasi, pengkoordinasian, evaluasi, pengawasan, pemilihan staf, negosiasi dan perwakilan. Setiap responden diminta untuk mengukur kinerjanya sendiri  dengan jawaban pertanyaan disusun menggunakan berupa skala interval /likert dengan  rentang 1 sampai 5. Skala rendah (angka 1) mewakili tingkat kinerja yang rendah, sedangkan skala tinggi (angka5) mewakili tingkat kinerja yang tinggi.
3.       Variabel Moderating
Variabel moderating adalah variabel yang mempengaruhi (memperkuat dan memperlemah) hubungan antara variabel independen dengan dependen (Sugiyono, 2007). Variabel moderating dalam penelitian ini adalah komitmen organisasi.
Komitmen organisasi didefinisikan sebagai dorongan dari dalam diri individu untuk melakukan sesuatu agar dapat menunjang keberhasilan organisasi sesuai dengan tujuan yang ditetapkan dan lebih mengutamakan kepentingan organisasi (Wiener dalam Evi Yuniarti dan Fadilla:2008) Komitmen organisaai diukur dengan menggunakan instrument daftar pertanyaan yang disusun oleh Mowday et.al (1979) yang juga digunakan pada penelitian terdahulu yaitu Dr. Melek Eker(2007) , Evi Yuniarti Fadilla (2008), Bambang Osmad (2008), Jaqueline Tangkau (2009),  Kadek dan I Ketut Suryanawa (2010). Daftar pertanyaan terdiri atas Sembilan butir pertanyaan dengan skala interval/likert dengan rentang nilai satu (terendah) dan lima (tertinggi). Alternatif jawaban degan nilai satu berarti sangat tidak setuju dan nilai lima berarti sangat setuju dengan pertanayaan yang ada dalam daftar pertanyaan.
Dalam penelitian ini, komitmen organisasi dilihat dari beberapa hal berikut ini:
a) usaha keras untuk menyukseskan organisasi,
b) kebanggaan berkerja pada organisasi tersebut,
c) kesediaan menerima tugas demi organisasi,
d) kesamaan nilai individu dengan nilai organisasi,
e) kebanggan menjadi bagian  dari organisasi,
     f) organisasi merupakan inspirasi untuk melaksanaan tugas,
g) senang atas pilihan bekerja di organisasi tersebut,
(h) anggapan bahwa organisasinya adalah organisasi yang terbaik, dan
(i) perhatian terhadap nasib organisasi     
DAFTAR PUSTAKA
Anthony, Robert N., dan Vijay Govindarajan. “Management Control System”, 12th edition, Mc Graw Hill, Newyork, 2007
Bambang Sarjito dan Osmad.”Pengaruh Partisipasi Penyusuan angaran Terhadap Kinerja Aparat PEMDA: Budaya dan Komitmen Organisasi sebagai moderating “ , Jurnal JEB Vol.2, No.1 Maret 2008:37-49
Carter dan Milton F.Usry. “Cost Accounting = Akuntansi Biaya”, edisi 13, Salemba Empat, Jakarta, 2006
Dwi Suhartini “Pengaruh Penerapan Total Quality Management Terhadap Kineraja Manahjerial dengan Budaya Organisasi sebagai Variabel Moderating pada PT.Pertamina UPMS V Surabaya” Jurnal Ekonomi dan Manajemen vol.8 no.2 pp288-297, 2007
Elek Meker Dr.  .“The Impact of Budget Participation on Managerial Performance; Via Organization comitmen : A study on the top 500 firms in Turkey”, Journal Ankara Universitesi SBFergisi pp.117-136, 2007
Ghozali, Imam. “Aplikasi Analisis Multivariate Dengan Program SPSS”, Edisi 4,  Badan Penerbit Universitas Diponegoro, Semarang, 2009
Hansen, Don R., dan Marryanne M. Mowen,. “Managerial Accounting”, 8thedition,  Thomson South-Western, Australia, 2007.
Hiras Pasaribu. Pengaruh Komitmen, Persepsi dan Penerapan pilar dasar TQM terhadap Kinerja Manajerial (Survei BUMN Manufucture Indonesia)”, Jurnal Akuntansi dan Keuangan vol11no.2,November 2009:65-75),2009
Horngren, Datar, dan George Foster.”Akuntansi Biaya Jilid I”,edisi kesebelas, Jakarta: Indeks,2008.
Jaqueline Tangkau.” Analisi Pengaruh Komitmen Organisasional dan Partisipasi Angaran terhadap Kinerja Manajerial dan Senjangan Anggaran”, Jurnal FORMAS Vol.2 No.4 Juni2009 295-302), 2009
Jha, Vidhu Shekhar. “Strategic Issues in Business Excellence and Benchmarking for competing in the 21st Century-An Indian Context”, American Society for Quality (ASQ) USA Summer 2003, Vol.29, Number 3, 2003
Mardiah, Aida Ainul dan Listianingsih.. “Pengaruh Sistem Pengukuran Kinerja, Sistem Reward, Dan Profit Center Terhadap hubungan antara total quality management dengan kinerja manajerial”, Jurnal SNA Solo, 15-16 September 2005
M. Nafarin. “Penganggaran Perusahaan”, Salemba Empat : Jakarta, 2004
Nasution,M.Nur.”Manajemen Mutu Total”, Bogor : Ghalia Indonesia, 2005
Narsa I Made dan Yuniawati R. D. “Pengaruh Interaksi Antara Total Quality Management dengan Sistem Pengukuran Kinerja dan Sistem Penghargaan Terhadap Kinerja Manajerial (Studi Empiris pada PT. Telkom Divre V Surabaya)”, Jurnal Akuntansi dan Keuangan, Vol. 6. No. 1, Mei 2003:18-34.
Prawirosentono, Suyadi.” Filosofi Baru Tentang Manajemen Mutu Terpadu Total Quality Management Abad 21”: PT.Bhumi Aksara: Jakarta, 2004
Sekaran, Uma. “Research Methods For Business = Metodologi Penelitian untuk Bisnis” Salemba Empat: Jakarta, 2006
Sugiono. “Metode Penelitian Bisnis” Bandung : CV Alfabeta , 2004
Suardana, Kadek,dan I ketut Suryanawa. “Pengaruh Partisipasi Penyusunan
Anggaran Pada Kinerja Manajerial Dengan Komitmen Organisasi sebagai variable Moderasi, AUDI Jurnal Akuntansi dan Bisnis- FE Univ.Udayana, Volume 1 Jan 2010
Therese A Joire .”Total Quality Management and Performance” (JQRM vol 24 No.6 pp617-627),2007
Tjiptono dan Diana.” Total Quality Management”. Andi Press:Yogyakarta,2001
T Sirait, Justine. “Anggaran Sebagai Alat Bantu Manajemen”, Grasindo : Jakarta , 2006
Yuniarti, Evi dan Fadila Marga.. “ Pengaruh Komitmen Organisasi Dan Gaya Kepemimpinan Terhadap Hubungan Antara Partisipasi Anggaran Dan Kinerja Manajerial ( Studi Empiris Pada Kantor Cabang Perbankan Di Provinsi Lampung)”. Jurnal Ilmiah ESAI vol.2, Nomor1, Januari 2008

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar