Tampilkan postingan dengan label Intermezzo. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Intermezzo. Tampilkan semua postingan

Kamis, 19 Juni 2014

Memberi Nama Anak dalam Islam

Sumber : http://akhwat.web.id/muslimah-salafiyah/permata-hati/etika-memberi-nama-anak-dalam-islam/

Etika Memberi Nama Anak dalam Islâm

Oleh: Abu Muhammad Abdurrahman Sarijan
بسم الله الرحمن الرحيم
Pengantar
Menanggapi e-mail dari seorang ikhwan tentang etika memberi nama dalam Islam, maka berikut kami susun makalah yang berkenaan dengan masalah yang dimaksud.
Kami mengira permasalahan ini sangat penting untuk diketahui oleh kaum muslimin dikarenakan banyaknya kaum muslimin yang masih asal-asalan atau salah dalam memberikan nama kepada anak-anak mereka.
Akhirnya semoga makalah yang ringkas ini dapat bermanfaat bagi kita semua, amiin.
Pentingnya Pemberian Nama
Nama adalah ciri atau tanda, maksudnya adalah orang yang diberi nama dapat mengenal dirinya atau dikenal oleh orang lain. Dalam Al-Qur’anul Kariim disebutkan;
يَا زَكَرِيَّا إِنَّا نُبَشِّرُكَ بِغُلَامٍ اسْمُهُ يَحْيَى لَمْ نَجْعَل لَّهُ مِن قَبْلُ سَمِيًّا (7) سورة مريم
“Hai Zakaria, sesungguhnya Kami memberi kabar gembira kepadamu akan (beroleh) seorang anak yang namanya Yahya, yang sebelumnya Kami belum pernah menciptakan orang yang serupa dengan dia” (QS. Maryam: 7).
Dan hakikat pemberian nama kepada anak adalah agar ia dikenal serta memuliakannya. Oleh sebab itu para ulama bersepakat akan wajibnya memberi nama kapada anak laki-laki dan perempuan 1). Oleh sebab itu apabila seseorang tidak diberi nama, maka ia akan menjadi seorang yang majhul (=tidak dikenal) oleh masyarakat.
Waktu Pemberian Nama
Telah datang sunnah dari Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam tentang waktu pemberian nama, yaitu:
a) Memberikan nama kepada anak pada saat ia lahir.
b) Memberikan nama kepada anak pada hari ketiga setelah ia lahir.
c) Memberikan nama kepada anak pada hari ketujuh setelah ia lahir.
Pemberian Nama kepada Anak adalah Hak (Kewajiban) Bapak
Tidak ada perbedaan pendapat bahwasannya seorang bapak lebih berhak dalam memberikan nama kepada anaknya dan bukan kepada ibunya. Hal ini sebagaimana telah tsabit (=tetap) dari para sahabat radhiallahu ‘anhum bahwa apabila mereka mendapatkan anak maka mereka pergi kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam agar Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam memberikan nama kepada anak-anak mereka. Hal ini menunjukkan bahwa kedudukan bapak lebih tinggi daripada ibu.
Nasab Anak kepada Bapak bukan kepada Ibu
Sebagaimana hak memberikan nama kepada anak, maka seorang anakpun bernasab kepada bapaknya bukan kepada ibunya, oleh sebab itu seorang anak akan dipanggil: Fulan bin Fulan, bukan Fulan bin Fulanah.
Allah Ta’ala berfirman:
ادْعُوهُمْ لِآبَائِهِمْ (5) سورة الأحزاب
“Panggilah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka…” (QS. Al-Ahzab: 5)
Oleh karena itu manusia pada hari kiamat akan dipanggil dengan nama bapak-bapak mereka: Fulan bin fulan. Hal ini sebagaimana diterangkan dalam hadits dari Ibnu ‘Umar radhiallahu ‘anhuma dari Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam 2).
Memilih Nama Terbaik untuk Anak
Kewajiban bagi seorang bapak adalah memilih nama terbaik bagi anaknya, baik dari sisi lafadz dan maknanya, sesuai dengan syar’iy dan lisan arab. Kadangkala pemberian nama kepada seorang anak baik adab dan diterima oleh telinga/pendangaran akan tetapi nama tersebut tidak sesuai dengan syari’at.
Tata Tertib Pemberian Nama Seorang Anak
1. Disukai Memberikan Nama Kepada Seorang Anak Dengan Dua Suku Kata, misal Abdullah, Abdurrahman. Kedua nama ini sangat disukai oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala sebagaimana diterangkan oleh Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Abu Dawud dll. Kedua nama ini menunjukkan penghambaan kepada Allah Azza wa Jalla.
Dan sungguh Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam telah memberikan nama kepada anak pamannya (Abbas radhiallahu ‘anhu), Abdullah radhiallahu ‘anhuma. Kemudian para sahabat radhiallahu ‘anhum terdapat 300 orang yang kesemuanya memiliki nama Abdullah.
Dan nama anak dari kalangan Anshor yang pertama kali setelah hijrah ke Madinah Nabawiyah adalah Abdullah bin Zubair radhiallahu ‘anhuma.
2. Disukai Memberikan Nama Seorang Anak Dengan Nama-nama Penghambaan Kepada Allah Dengan Nama-nama-Nya Yang Indah (Asma’ul Husna), misal: Abdul Aziz, Abdul Ghoniy dll. Dan orang yang pertama yang menamai anaknya dengan nama yang demikian adalah sahabat Ibn Marwan bin Al-Hakim.
Sesungguhnya orang-orang Syi’ah tidak memberikan nama kepada anak-anak mereka seperti hal ini, mereka mengharamkan diri mereka sendiri memberikan nama anak mereka dengan Abdurrahman sebab orang yang telah membunuh ‘Ali bin Abi Tholib adalah Abdurrahman bin Muljam.
3. Disukai Memberikan Nama Kepada Seorang Anak Dengan Nama-nama Para Nabi.
Para ulama sepakat akan diperbolehkannya memberikan nama dengan nama para nabi3).
Diriwayatkan dari Yusuf bin Abdis Salam, ia berkata: “Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam memberikan nama kepadaku Yusuf” (HR. Bukhori –dalam Adabul Mufrod-; At-Tirmidzi –dalam Asy-Syama’il-). Berkata Ibnu Hajjar Al-Asqolaniy: Sanadnya Shohih.
Dan seutama-utamanya nama para nabi adalah nama nabi dan rasul kita Muhammad bin Abdillah shalallahu ‘alaihi wa sallam.
Para ulama berbeda pendapat tentang boleh atau tidaknya penggabungan dua nama Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dengan nama kunyahnya, Muhammad Abul Qasim.
Berkata Ibnul Qoyyim Al-Jauziyyah rahimahullah:”Dan yang benar adalah pemberian nama dengan namanya (yakni Muhammad, pent) adalah boleh. Sedangkan berkunyah dengan kunyahnya adalah dilarang dan pelarangan menggunakan kunyahnya pada saat beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam masih hidup lebih keras dan penggabungan antara nama dan kunyah beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam juga terlarang”4).
4. Memberikan Nama Kepada Seorang Anak Dengan Nama-nama Orang Sholih Dari Kalangan Kaum Muslimin.
Telah tsabit dari hadits Mughiroh bin Syu’bah radhiallahu ‘anhu dari Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam, ia bersabda:
أنهم كانوا يسمون بأسماء أنبيائهم والصالحين (رواه مسلم).
“Sesungguhnya mereka memberikan nama (pada anak-anak mereka) dengan nama-nama para nabi dan orang-orang sholih” (HR. Muslim).
Kemudian para sahabat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah penghulunya orang-orang sholih bagi umat ini dan demikian juga orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari akhir.
Para sahabat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam memandang bahwa hal ini adalah baik, oleh karena itu sahabat Zubair bin ‘Awan radhiallahu ‘anhu memberikan nama kepada anak-anaknya –jumlah anaknya 9 orang- dengan nama-nama sahabat yang syahid pada waktu perang Badr, missal: Abdullah,’Urwah, Hamzah, Ja’far, Mush’ab, ‘Ubaidah, Kholid, ‘Umar, dan Mundzir.
Syarat-syarat dalam Pemberian Nama
a. Nama tersebut menggunakan bahasa arab
b. Nama tersebut dibangun dengan makna yang baik secara bahasa dan syari’at. Oleh karenanya dengan adanya syarat ini tidak boleh menggunakan nama-nama yang haram atau makruh baik dalam segi lafadz ataupun maknanya. Oleh karena itu Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam merubah nama-nama yang jelek menjadi nama-nama yang baik dari segi lafadz dan maknanya.
Nama-nama yang Diharamkan
a. Kaum muslimin telah bersepakat terhadap haramnya penggunaan nama-nama penghambaan kepada selain Allah Ta’ala baik dari matahari, patung-patung, manusia atau selainnya, missal: Abdur Rasul (=hambanya Rasul), Abdun Nabi (=hambanya Nabi) dll. Sedangkan selain nama Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, misal: Abdul ‘Izza (=hambanya Al-‘Izza (nama patung/berhala), Abdul Ka’bah (=hambanya Ka’bah), Abdus Syamsu (=hambanya Matahari) dll.
b. Memberi nama dengan nama-nama Allah Tabaroka wa Ta’ala, misal: Rahim, Rahman, Kholiq dll.
c. Memberi nama dengan nama-nama asing atau nama-nama orang kafir.
d. Memberi nama dengan nama-nama patung/berhala atau sesembahan selain Allah Ta’ala, misal: Al-Lat, Al-‘Uzza dll.
e. Memberi nama dengan nama-nama asing baik yang berasal dari Turki, Faris, Barbar dll.
f. Setiap nama yang memuji (tazkiyyah) terhadap diri sendiri atau berisi kedustaan.
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;
إن أخنع إسم عند الله رجل تسمى ملك الأملاك (رواه البخاري؛ مسلم).
“Sesungguhnya nama yang paling dibenci oleh Allah adalah seseorang yang bernama Malakul Amlak (=rajanya diraja)” (HR. Bukhori; Muslim).
g. Memberi nama dengan nama-nama Syaithon, misal: Al-Ajda’ dll.
Nama-nama yang Dimakruhkan
a. Dimakruhkan memberi nama anak dengan nama-nama orang fasiq, penzina dll.
b. Dimakruhkan memberi nama anak dengan nama perbuatan-perbuatan jelek atau perbuatan-perbuatan maksiat.
c. Dimakruhkan memberi nama anak dengan nama para pengikut Fir’un, misal: Fir’un, Qarun, Haman.
d. Dimakruhkan memberi nama anak dengan nama-nama hewan yang telah dikenal akan sifat-sifat jeleknya, misal: Anjing, keledai dll.
e. Dimakruhkan memberi nama anak dengan Ism, mashdar, atau sifat-sifat yang menyerupai terhadap lafzdz “agama” (الدين) , dan lafadz “Islam” (الإسلام), misal: Nurruddin, Dliyauddin, Saiful Islam dll.
f. Dimakruhkan memberi nama ganda5), misal: Muhammad Ahmad, Muhammad Sa’id dll.
g. Para ulama memakruhkan memberi nama dengan nama-nama surat dalam Al-Qur’an, misal: Thoha, Yasin dll.
Jalan Keluar dari Pemberian Nama-nama yang Diharamkan dan yang Dimakruhkan
Jalan keluar dari kedua hal ini adalah merubah nama-nama tersebut dengan nama-nama yang disukai (mustahab) atau yang diperbolehkan secara syar’i. Dan untuk merubah nama ini kita dapat mendatangi kementrian/depertemen yang mengurusi masalah ini.6)
Sesungguhnya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam merubah nama-nama yang mengandung makna kesyirikan kepada Allah kepada nama-nama Islamiy, dari nama-nama kufur kepada nama-nama imaniyah.
Diriwayatkan dari ‘Aisyah radhiallahu ‘anha, ia berkata:
كان رسول الله صلى الله عليه و سلم يغير الإسم القبيح إلى الإسم الحسن (رواه الترمذي).
“Sesungguhnya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam merubah nama-nama yang jelek menjadi nama-nama yang baik” (HR. AT-Tirmidzi).
Demikianlah Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam merubah nama-nama yang jelek dengan nama-nama yang baik, seperti beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam merubah nama Syihab menjadi Hisyam dll. Demikian juga kita mesti merubah nama-nama yang buruk menjadi nama-nama yang baik, misal: Abdun Nabi menjadi Abdul Ghoniy, Abdur Rasul menjadi Abdul Ghofur, Abdul Husain menjadi Abdurrahman dll.
Maraji’:
Tasmiyah Al-Maulud, karya: Asy-Syaikh Bakr Abdullah Abu Zaid
Catatan Kaki:
1) Marotib Al-Ijma’, hal: 154. Oleh Ibn Hazm.
2) Lihat Shahih Bukhori, bab: Maa Yad’u An-Naas Bi abaihim.
3) Lihat Syarh Shahih Muslim 8/437. Imam An-Nawawi rahimahullah; Marotib Al-Ijma’, hal: 154-155.
4) Zaadul Ma’ad, 2/347. Ibnul Qoyyim Al-Jauziyyah rahimahullah.
5) Maksudnya adalah memberikan nama anak dengan dua nama, yang mana nama tersebut terdapat dalam satu orang. Misal Muhammad Ahmad, nama Muhammad dan Ahmad dimiliki oleh satu orang, dan Ahmad bukanlah nama bapaknya, pent.
6) Untuk di sini (Kuwait) kita dapat mendatangi Mahkamah, pent.

Kamis, 13 Desember 2012

Hening Malam


Malam kian larut,
Hening pun memerangkap jiwa,
Jiwa yang perlahan mati karna hati tersakiti,,

Canda & tawa pun seakan melambai padaku dari kejauhan,,
Akan kah ini pertanda tak kan ada lagi bahagia menyusup???

Gairah, semangat, & gelora jiwa mudaku entah pergi kemana,
Entah apa yang terjadi.,

Hanya kusisakan satu alasanku tuk bertahan,,
Satu mimpi yang harus dapat kuwujudkan dengan baik,,

Di dalam bayang kelam akan noda itu, ku berusaha bangkit,,
Membawa senyum & bahagiaku untukmu,, 
Kau lah yang terpenting dalam hidupku,,
Bahagiamu bahkan lebih berharga dibanding nyawaku,

Jika ini adalah takdir & jalan yang harus ku tempuh,,
Izinkanlah,,
Izinkanlah ku bersanding dalam hidup & matimu,
Kan ku abdikan diri ini sbagai permaisuri hatimu,

Sgalanya,,
Sgalanya hanyalah tentang dirimu,.,

Bukan maksud hati menjadikanmu tuhan bagiku,,
Tapi semua ini adalah bahagiaku,,
Untuk ketenanganku,,

Ah,,!!
Semua ini tak kan pernah terjadi jika aku tidak terlalu bodoh dalam mencintaimu,,
Sayang yang begitu besar,,
Hingga cintaku menjadi buta,.

Aku hanya ingin mencintaimu dengan sempurna,
Dengan rasa sayang yang begitu besar,
Bahkan lebih besar dari ini,,

Maafkanlah aku,
Kuingin kau tahu, kulakukan itu hanya tuk dirimu,
Tuk mencintaimu dengan rasa yang begitu sempurna,,

Tapi itu semua cara yang salah!!
Orang yang salah!!

Dan aku layaknya kucing manis yang begitu menuruti kata hatinya,,
Hingga ku terjerat dalam niat busuknya!!
Ingin ku kutuk hidupnya!
Ingin kulihat derita dalam tiap desah nafasnya,,

Tapi .,,
Semua itu tak lebih penting dari bahagia kekasihku,,
Seorang pria yang tak pernah menuntut atas perlakuan ku,,
Seorang pria yang sangat sabar menghadapi kekanakanku,,

 Dan kuingin dia masih bersedia mendampingiku,,
Walau ku tak bisa berikan yang sempurna,..
Ku tetap berusaha menjadi yang terindah dalam hidupnya,,

Iziinkanlah,,
Dengarlah do'aku ini Ya Rabb,,
Engkau Maha Tau segalanya,,
Kan kupetik hikmah hidup ini tuk jadi manusia yang lebih baik,,
Menjadi wanita sesungguhnya dengan kelembutan hati,,
Dan segala hal yang mencerminkan sosok wanita yang sholehah,, 

Senin, 05 November 2012

5 Hal yang Pria Harapkan Bisa Dimengerti Wanita

Isi pikiran pria tidak bisa ditebak, kecuali jika Anda punya kemampuan membaca pikiran atau telepati. Tapi ada beberapa hal yang mau mereka bagi untuk diketahui wanita. Situs Shape.com telah menanyakan kepada sejumlah pria dengan rentang usia antara 19-56 tahun mengenai apa yang mereka harap wanita ketahui tentang mereka. Apa saja? Ini jawabannya, seperti dikutip dari eHarmony.

1. Pria Perlu Waktu 'Me Time' Lebih Lama
Momen 'me time' antara pria dan wanita bisa berbeda. Pria biasanya memerlukan waktu untuk sendiri yang lebih lama ketimbang wanita, karena bagi mereka waktu berjalan sangat cepat. Jadi ketika kekasih atau calon pacar tidak balik menelepon/membalas SMS dari Anda, atau sudah dua minggu sejak dia menghubungi Anda, bukan berarti dia tak peduli dan tertarik lagi. Bisa jadi karena dia hanya ingin menikmati 'me time' sendirian atau bersama teman-temannya.

2. Kekuatan Wanita Lebih Besar dari yang Anda Kira
Pengakuan dari seorang editor in chief sebuah majalah gaya hidup pria, seperti dikutip dari Shape, wanita punya daya magis yang kuat dan lebih besar dari yang mereka tahu. "Sesaat Anda (merujuk pada wanita) melirik ke arah kami (para pria), mata kami terpana dan jantung berdegup menembus dada, berarti Anda sudah 'mendapatkan' kami dan tidak ada yang bisa kami lakukan untuk itu!"

3. Pria Senang Menemani Pacarnya Belanja (Kadang-kadang)
Sering melihat seorang pria duduk bosan di mal sementara kekasihnya asyik memilah belanjaan? Sebenarnya pria tidak masalah jika harus menemani kekasihnya berbelanja, bahkan dia suka menghabiskan waktu dengan belanja bersama Anda. Tapi, selama dia boleh memilihkan satu atau dua baju saja untuk Anda. Perlu diingat, suka bukan berarti dia selalu bersedia ikut Anda belanja, jadi batasi frekuensinya agar tidak terlalu sering.

4. Pria Juga Mengkhawatirkan Bentuk Tubuh
Wanita digambarkan sebagai sosok yang sangat peduli penampilan dibandingkan pria. Jangan salah, meskipun dari luar terlihat cuek, Kaum Adam pun mengkhawatirkan bentuk tubuh mereka. Banyak pria yang sangat memerhatikan pola makan, menjalani diet dan olahraga keras di gym demi mendapatkan bentuk tubuh idaman. Jadi, berhati-hatilah jika Anda ingin mengomentari bentuk atau berat badannya karena ini hal yang cukup sensitif.

5. Wanita Tidak Perlu Berusaha Keras untuk Jadi Cantik
Pria akan menghargai wanita yang rela dandan berjam-jam demi terlihat menarik di depan pria. Tapi sebenarnya bukan itu yang diinginkan pria. Mereka lebih suka melihat wanita yang cantik alami daripada bermake-up tebal dan rambut yang diblow-dry berlebihan. Kunci utamanya, fokuskan pada perawatan tubuh dan wajah, bukan 'berinvestasi' dengan berpuluh-puluh produk make-up.

Romantis Versi Pria

Seperti halnya wanita, pria juga menyukai hal-hal romantis. Hanya saja, pria umumnya tidak terlalu 'pintar' mengutarakan atau mengekspresikan maksudnya dibandingkan wanita. Hal-hal yang dianggap romantis oleh wanita pun bisa berbeda pada pria. Ini dia berbagai hal yang dianggap romantis dan tidak oleh pria, seperti dilansir Third Age.

1. Surat Cinta vs Pesan Teks Romantis
Mengirimkan surat cinta dianggap sudah ketinggalan zaman dan cara yang paling 'pasaran' untuk mengungkapkan cinta bagi pria. Penyebabnya, tidak semua pria dapat menulis surat cinta. Jika seorang pria mengirimi pesan singkat dan mengatakan bahwa ia sedang memikirkan Anda, maka saat itulah ia sedang berusaha mengekspresikan perasaannya kepada Anda.

2. Piknik vs Memasak Bersama
Pergi ke suatu taman, menggelar karpet atau tikar dan makan bersama dengan bekal yang telah dibawa; sepertinya hampir semua pasangan melakukan hal itu. Sementara berkencan di rumah dan masak bersama menjadi sesuatu yang dianggap romantis oleh pria. Kedekatan jadi lebih intens dan pria akan merasa lebih banyak waktu untuk berbincang-bincang serta mengetahui banyak hal tentang Anda.

3. Mencium Wangi Parfum vs Wangi Rambut
Tidak ada salahnya menggunakan parfum yang memiliki berbagai aroma, tetapi pria akan lebih suka mencium wangi rambut Anda yang terlihat bersih dan tertata. Pilihlah wangi shampo yang sesuai karakter Anda.

4. Menyenangkan Dia dengan Nonton Pertandingan Olahraga vs Asyik Sibuk Sendiri Selama Dia Nonton
Jika pada dasarnya Anda adalah pecinta olah raga, Anda bisa duduk bersamanya menonton pertandingan. Tetapi, jika Anda melakukannya semata-mata hanya untuknya, lebih baik jangan. Pria sangat mengerti bahwa Anda adalah wanita yang tidak terlalu menyukai olah raga. Jangan memaksakan diri. Justru itu yang dia suka.

5. Bunga di Hari Valentine vs Bunga di Hari Apapun
Bagi sebagian pria, memberikan bunga saat anniversary atau valentine adalah hal yang berlebihan. Apalagi jika hubungan Anda dengan pasangan sudah terjalin cukup lama. Pria akan lebih menyukai memberikan sesuatu di hari-hari yang tidak direncanakan. Hal tersebut bisa saja malah membuat Anda terkejut, bukan?

6. Membahas Masa Depan vs Membahas Rencana Liburan Bersama
Banyak pria yang belum siap untuk diajak berdiskusi seputar masa depan, apalagi rencana memiliki rumah dan anak. Mereka lebih menyukai berdiskusi tentang rencana perjalanan ke suatu tempat. Hal-hal yang membuat relaks lebih disukai pria ketimbang bergelut dengan topik yang memberatkan.

7. Double Date vs Pergi ke Pesta Bersama
Pergi keluar bersama pasangan lain atau double date bagi sebagian pria adalah hal yang aneh. Sementara itu, pergi ke pesta bersama-sama jauh lebih menyenangkan, karena akan membuat Anda dan si dia terlihat romantis saat berdampingan di keramaian.