BAB II
STUDI PUSTAKA
2.1.Total Quality Management.
2.1.1. Pengertian dan Konsep Total Quality Management.
Tjiptono (2003:4) mendefinisikan
Total Quality Management
sebagai “Suatu pendekatan dalam menjalankan usaha yang mencoba untuk
memaksimumkan daya saing organisasi melalui perbaikan terus-menerus atas
produk, jasa, manusia, proses dan lingkungannya”. Sedangkan Gasperz
(2001:5) mendefinisi
Total Quality Managementsebagai “Suatu cara meningkatkan performansi secara terus-menerus (
continuous performance improvement)
pada setiap level operasi atau proses, dalam setiap area fungsional
dari suatu organisasi, dengan menggunakan semua sumber daya manusia dan
modal yang tersedia”. Pengertian
Total Quality Management yang
diungkapkan para ahli pada umumnya sama, yakni merupakan sistem
manajemen yang mengangkat kualitas sebagai strategi usaha dan
berorientasi pada kepuasan pelanggan dengan melibatkan seluruh anggota
organisasi.
Dari definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa
Total Quality Management
merupakan pendekatan manajemen sistematik yang berorientasi pada
organisasi, pelanggan, dan pasar melalui kombinasi antara pencarian
fakta praktis dan penyelesaian masalah guna menciptakan peningkatan
secara signifikan dalam kualitas, produktifitas dan kinerja lain dalam
perusahaan. Dasar pemikiran diperlukannya
Total Quality Management
sangatlah sederhana, yakni bahwa cara yang terbaik agar dapat bersaing
dan unggul dalam persaingan global adalah dengan menghasilkan kualitas
yang terbaik. Untuk menghasilkan kualitas yang terbaik diperlukan upaya
perbaikan berkesinambungan terhadap kemampuan manusia, proses dan
lingkungan. Cara terbaik agar dapat memperbaiki kemampuan
komponen-komponen tersebut secara berkesinambungan adalah dengan
menerapkan
Total Quality Management. Penerapan
Total Quality Management
dalam suatu perusahaan dapat memberikan beberapa manfaat utama yang
pada gilirannya meningkatkan laba serta daya saing perusahaan yang
bersangkutan, sehingga diperlukan perubahan besar dalam budaya dan
sistem nilai suatu organisasi.
2.1.2. Prinsip-Prinsip Total Quality Management.
Menurut Hensler dan Brunellin yang dikutip oleh Tjiptono (2003: 14-15) ada empat prinsip utama dalam
Total Quality Management. Keempat Prinsip tersebut adalah:
1. Kepuasan Pelanggan
Dalam
Total Quality Management, konsep mengenai kualitas dan
pelanggan diperluas. Kualitas tidak hanya bermakna kesesuaian dengan
spesifikasi tertentu, tetapi kualitas tersebut ditentukan oleh
pelanggan. Kebutuhan pelanggan diusahakan untuk dipuaskan dalam segala
aspek, termasuk dalam harga, keamanan, dan ketepatan waktu.
2. Respek terhadap setiap orang.
Dalam perusahaan berkualitas, setiap karyawan dipandang sebagai
individu yang memiliki talenta dan kreatifitas yang khas. Dengan
demikian, karyawan merupakan sumber daya organisasi yang paling
bernilai. Oleh karena itu, setiap orang dalam organisasi diperlukan
dengan baik dan diberikan kesempatan untuk terlibat dan berpartisipasi
dalam tim pengambil keputusan.
3. Manajemen Berdasarkan Fakta
Perusahaan kelas berkualitas berorientasi pada fakta, maksudnya bahwa
setiap keputusan selalu didasarkan pada data, bukan sekedar pada
perasaan. Ada dua konsep pokok yang berkaitan dengan hal ini: (1)
prioritas, yakni suatu konsep yang menyatakan bahwa perbaikan tidak
dapat dilakukan pada semua aspek pada saat yang bersamaan, mengingat
keterbatasan sumber daya yang ada; (2) variasi atau variabilitas kinerja
manusia, variasi/variabilitas (keragaman) kinerja/kemampuan dari setiap
anggota merupakan bagian yang wajar dari setiap sistem organisasi.
Maksudnya, setiap perbedaan yang terjadi dikaji, kemudian ditetapkan
langkah/kebijakan yang paling sesuai untuk diterapkan. Dengan demikian,
manajemen dapat memprediksikan hasil dari setiap keputusan dan tindakan
yang dilakukan.
4. Perbaikan yang berkesinambungan
Agar dapat sukses, setiap perusahaan perlu melakukan proses
sistematis dalam melaksanakan perbaikan secara berkesinambungan. Konsep
yang berlaku disini adalah siklus PDCAA
(plan-do-check-act-analyze), yang terdiri dari langkah-langkah perencanaan, dan melakukan tindakan koreksi terhadap hasil yang diperoleh.
2.1.3. Elemen-Elemen dalam Total Quality Management.
Nasution (2005:324) mengemukakan The Malcolm Balridge National Award
(1987) yang merupakan salah satu pengesahan mutu untuk mengakui
Total Quality Management
sebagai bagian penting dari strategi usaha, dimana The Malcolm Balridge
National Award ini berfokus pada sistem manajemen mutu terpadu dan
menghasilkan perbaikan sistem mutu. Konsep-konsep penting dalam kriteria
pengujian penghargaan Malcolm Balridge (sejak tahun 1987 s/d sekarang)
adalah sebagai berikut:
1) Mutu adalah didefinisikan oleh pelanggan
2) Kepemimpinan senior usaha perlu menciptakan nilai mutu yang jelas dan membangun nilai kedalam care perusahaan
3) Keunggulan mutu diperoleh dari sistem dan proses yang didesain dengan baik dan dilaksanakan dengan baik.
4) Perbaikan yang berkesinambungan harus merupakan bagian dari manajemen serta semua sistem dan proses
5) Perusahaan perlu mengembangkan tujuan serta juga rencana strategik dan operasional untuk mencapai kepemimpinan mutu.
6) Memperpendek waktu tanggapan dari semua operasi dan proses
dari kebutuhan perusahaan sebagai bagian usaha perbaikan mutu.
7) Operasi dan keputusan perusahaan harus didasarkan pada fakta dan data
8) Semua karyawan harus secara tepat dilatih dan dikembangkan serta dilibatkn dalam aktifitas mutu.
9) Mutu desain dan pencegahan kesalahan harus merupakan unsur utama dalam sistem mutu
10) Perusahaan perlu mengkomunikasikan persyaratan mutu kepada pemasok dan bekerja untuk meningkatkan kinerja mutu pemasok
Kriteria mutu Malcolm Balridge berfokus pada 7 area topik yang menjadi elemen dari
Total Quality Management yang secara integral dan dinamis berhubungan (Nasution 2005:326) yaitu sebagai berikut:
1.Kepemimpinan (
Leadership)
Total Quality Management dapat dilaksanakan jika semua manajer di setiap lini menerapkan
Total Quality Management sebagai suatu filosofi dengan menyusun sasaran dan merencanakan strateginya.
2. Informasi dan Analisis (
Information and analysis)
Setiap kejadian yang berhubungan dengan kualitas menjadi informasi
yang sangat penting, informasi tersebut kemudian dikaji dan di evaluasi
sehingga efisiensi dapat tercapai.
- Perencanaan Kualitas Strategis (Strategic Quality Planning)
Perencanaan adalah sesuatu yang sangat penting, untuk itu harus
disusun secara matang. Tanpa perencanan maka tidak dapat diukur
efektivitas pelaksanaannya.
3. Pengembangan Sumber Daya Manusia
(Human Resource Management)
Karyawan dalam perusahaan dituntut keterlibatannya secara penuh.
Tanpa keterlibatan dan partisipasi penuh, maka filosofi tersebut tidak
akan berjalan dengan baik. Untuk itu kepuasan kepada karyawan adalah
salah satu cara melibatkan mereka dalam seluruh kegiatan perusahaan.
4. Manajemen Kualitas Proses (
Management Quality Process)
Hal ini meliputi pendesainan dan pengenalan kualitas dan pelayanan.
Pihak manaajemen juga akan terus mengadakan proses perbaikan terus
menerus
5. Hasil-hasil Kualitas (
Quality Result)
Hasil-hasil kualitas diketahui melalui survey pendahuluan yang
bersifat eksploratif, diidentifikasi melalui semua atribut produk yang
menentukan kepuasan pelanggan dan persepsi pelanggan tentang kualitas
produk.
6. Kepuasan Pelanggan (
Customer Satisfaction)
Kepuasan pelanggan adalah tujuan akhir atau batu ujian dari program
mutu gabungan suatu organisasi, yang diintegrasikan petunjuk keunggulan
dan kontinuitas yang menggambarkan mutu total.
2.1.4. Metode-Metode yang digunakan dalam Total Quality Management.
Menurut Nasution (2005:27) bahwa metode Total Quality Mangement
berfokus pada tiga pakar yang merupakan pionir dalam pengembangan
Total Quality Management, yaitu:
- Metode Deming
Metode yang terkenal dengan Siklus Deming
(Deming Cycle),
yang dikembangkan untuk menghubungkan antara operasi dengan kebutuhan
pelanggan dan memfokuskan sumber daya semua bagian dalam perusahaan
(riset, desain, operasi, dan pemasaran) secara terpadu dan sinergi untuk
memenuhi kebutuhan pelanggan. Siklus Deming adalah model perbaikan
berkesinambungan yang dikembangkan oleh W. Edward Deming yang terdiri
atas empat komponen utama secara berurutan, seperti gambat berikut:
Gambar 2.1.
Siklus Deming
Sumber: Nasution (2004)
Dalam siklus ini dijelaskan bahwa:
- Perencanaan merupakan hal yang harus menjadi fokus pertaman, yang
disusun berdasarkan prinsip-prinsip seperti menerapkan apa, mengapa,
siapa, dimana dan bagaimana suatu hal harus diperbaiki.
- Setelah rencana tersebut disusun,maka pelaksanaan rencana tersebut dilakukan secara bertahap.
- Rencana telah dilakukan, setelah itu, tindakan evaluasi dilakukan
untuk melihat apakah rencana tersebut memberi dampak baik atau
sebaliknya.
- Selanjutnya tindakan penyesuaian dilakukan bila dinggap perlu berdasarkan hasil evaluasi yang telah dilakukan.
- Metode Juran
Juran mendefinisikan kualitas sebagai cocok/sesuai untuk digunakan
(fitness for use),
yang mengandung pengertian bahwa suatu barang atau jasa harus dapat
memenuhi apa yang diharapkan oleh para pemakainya. Pengertian cocok
untuk digunakan ini mengandung 5 dimensi utama yaitu kualitas desain,
kualitas kesesuaian, ketersediaan, keamanan dan kebutuhan lapangan.
Juran mencetuskan
The Juran Trilogy yaitu:
1. Perencanaan kualitas
Perencanaan kualitas meliputi pengembangan produk, sistem dan proses
yang dibutuhkan untuk memenuhi atau melampaui harapan pelanggan.
2. Pengendalian kualitas
Pengendalian kualitas dilakukan dengan menilai kinerja kualitas
aktual, membandingkan kinerja dan tujuan, dan bertindak berdasarkan
perbedaan antara kinerja dan tujuan
3. Perbaikan kualitas
Perbaikan kualitas harus dilakukan secara terus menerus dilakukan
dengan mengembangkan infrastruktur yang diperlukan untuk melakukan
perbaikan kualitas setiap tahun, mengidentifikasi bagian-bagian yang
membutuhkan perbaikan dan melakukan proyek perbaikan, membentuk dan
memfasilitasi suatu tim proyek yang bertanggung jawab dalam
menyelesaikan proyek perbaikan.
4. Metode Crosby
Pandangan-pandangan Crosby yang dirangkumnya dalam ringkasan yang ia sebut sebagai dalil-dalil manajemen kualitas, yaitu:
- Dalil pertama: Kualias adalah persyaratan.
Pada awalnya kualitas diterjemahkan sebagai tingkat kebaikan
(goodness).
Definisi ini memiliki kelemahan, yaitu tidak menerangkan secara
spesifik bagaimana yang disebut baik itu. Definisi kualitas menurut
Crosby adalah sebuah persyaratan
(conformance to requirements).
Maksudnya, kurang sedikit saja dari persyaratannya, maka suatu barang
atau jasa dikatakan tidak berkualitas. Persyaratan itu sendiri dapat
berubah sesuai dengan keinginan pelanggan, kebutuhan organisasi, pemasok
dan sumber, pemerintah, teknologi serta pasar persaingan.
- Dalil kedua: Sistem kualitas adalah pencegahan
Untuk menghindari pemborosan biaya pada akhir proses, maka sebaiknya
dilakukan pencegahan sejak awal sehingga outputnya dijamin bagus serta
hemat biaya dan waktu. Atas dasar itulah sistem kalitas menurut Crosby
merupakan pencegahan.
- Dalil ketiga: Kerusakan Nol
(zero defect) merupakan standar kerja.
Konsep yang berlaku di masa lalu adalah konsep yang mendekati
(close enough concept),
misalnya efisiensi mesin mendekati 95%, tetapi bila dihitung besarnya
efisiensi 50% dikalikan dengan penjualan maka akan didapat nilai yang
cukup besar. Crosby mengjukan konsep kerusakan nol
(zero defect) yang menurutnya dapat tercapai bila perusahaan melakukan sesuatu dengan benar sejak awal proses dan setiap kali proses.
- Dalil keempat: Ukuran kualitas adalah
price of non conformane
Kualitas merupakan sesuatu yang dapat diukur. Biaya untuk
menghasilkan kualitas juga harus terukur. Menurut Crosby, biaya mutu
merupakan penjumlahan antara
price of non conformance dan
price of conformance.
2.1.5. Manfaat dan Keunggulan Total Quality Management.
Ada banyak manfaat
Total Quality Management yang efektif, tetapi hal tersebut hanya dapat direalisasikan oleh perusahaan yang benar-benar mengenal
Total Quality Management itu sendiri.
Total Quality Management
menyita waktu dan sulit menerapkan sistem hasil pertimbangan sempurna
yang sesuai dengan perusahaan dan yang dapat memajukan tujuan-tujuan
bisnis.
Nasution (2005:42) menyebutkan beberapa manfaat yang dapat diperoleh dari penerapan
Total Quality Management yang berhasil sangat besar diantaranya:
- Perbaikan kepuasan pelanggan
- Penghapusan kesalahan-kesalahan dan pemborosan
- Peningkatan dorongan semangat kerja dan tanggung jawab pegawai
- Peningkatan profitabilitas dan daya saing.
Menurut Nasution (2005:43) manfaat atau pengaruh
Total Quality Management
dikelompokkan menjadi dua yaitu dapat memperbaiki posisi persaingan
(manfaat rute pasar) dan meningkatkan keluaran bebas dari kerusakan
(manfaat rute biaya).
Manfaat dan pengaruhnya tampak pada gambar berikut:
Gambar 2.2
Tujuan Perbaikan Kualitas
Sumber : Nasution (2005)
Total Quality Management memberikan jaminan bagi pelanggan,
bahwa perusahaan mempunyai tanggung jawab tentang kualitas dan mampu
menyediakan produk dan jasa sesuai dengan kebutuhan mereka. Sebuah
perusahaan yang memhami mengapa mereka memperkenalkan
Total Quality Management
dapat menerapkan suatu sistem yang fleksibel yang cocok bagi mereka
sendiri dan menyadari manfaat serta keefektifan yang dihasilkan
Total Quality Management.
Gasperz (2001:266) menyebutkan keunggulan-keunggulan perusahaan yang menerapkan
Total Quality Managementadalah:
1. Total Quality Management mengembangkan konsep kualitas dengan pendekatan totalitas
Inisiatif untuk peningkatan kualitas harus dimulai dengan adanya
pemahaman terhadap persepsi dan kebutuhan pelanggan. Dalam hal ini,
kualitas tidak dapat dipandang dalam arti yang sempit dan hanya dari
segi produk yang dihasilkan perusahaan, tetapi juga harus dipandang
sebagai keseluruhan aspek dari perusahaan.
2. Adanya perubahan dan perbaikan secara terus-menerus
Dengan menerapkan
Total Quality Management, perusahaan dituntut untuk terus belajar dan berubah memperbaiki atau meningkatkan kemampuannya.
3. Adanya upaya pencegahan kerusakan produk
Adanya upaya pencegahan ini arinya sejak dari perancangan produk,
proses produksi hingga menjadi produk akhir, yang kemudian akan
menghasilkan produk yang baik tanpa produk yang cacat
(zero defect) sehingga perusahaan mampu mengurangi biaya
(cost reduction),
menghindari pemborosan dan menghasilkan produk secara efektif dan
efisien dan pada akhirnya dapat meningkatkan profit bagi perusahaan.
2.2Biaya
2.2.1 Pengertian Biaya Kualitas
Biaya kualitas adalah biaya yang terjadi atau mungkin akan terjadi
karena kualitas yang buruk. Menurut Blocher, dkk (2000:220), biaya
kualitas didefinisikan sebagai biaya-biaya yang berkaitan dengan
pencegahan, pengidentifikasian, perbaikan produk yang berkualitas rendah
dan dengan
opportunity cost dari hilangnya waktu produksi dan
penjualan sebagai akibat dari rendahya kualitas. Jadi biaya kualitas
adalah biaya yang berhubungan dengan penciptaan, pengidentifikasian,
perbaikan, dan pencegahan kerusakan. Biaya kualitas merupakan biaya yang
terjadi karena adanya kesadaran akan perlunya menghindari kesalahan
sehingga tidak terjadi pemborosan atau biaya yang terjadi karen adanya
kesalahan pada produk yang sudah terlanjur terjadi dan harus diperbaiki.
2.2.2. Jenis-Jenis Biaya Kualitas.
Menurut Russel yang dikutip oleh Ariani (2004:9), biaya kualitas digolongkan dalam dua golongan besar, yaitu:
1. Cost Of Conformance
Biaya yang termasuk dalam
cost of conformace adalah biaya
pencegahan dan biaya penilaian, karena biaya-biaya tersebut terjadi
dalam rangka memastikan kualitas produk sesuai dengan keinginan
pelanggan.
2. Biaya pencegahan (
prevention cost)
Biaya pencegahan merupakan biaya yang terjadi untuk mencegah
kerusakan produk yang dihasilkan (mencegah cacat kualitas) atau semua
biaya yang berkaitan dengan setiap kegiatan yang dirancang untuk
memastikan bahwa kegiatan-kegiatan yang tepat dilaksanakan dengan benar
sejak pertama kali. Biaya pencegahan meliputi:
1) Biaya pelatihan kualitas, yaitu pengeluaran-pengeluaran untuk program-program pelatihan internal dan eksternal.
2) Biaya Teknik dan perencanaan kualitas, yaitu biaya-biaya yang
dikeluarkan untuk aktifitas-aktifitas yang berhubungan dengan patokan
rencana kualitas produk yang dihasilkan.
3) Biaya pemeliharaan peralatan, yaitu biaya yang dikeluarkan
untuk memasang, menyesuaikan, mempertahankan, memperbaiki, dan
menginspeksi peralatan produksi, proses dan sistem.
4) Biaya penjaminan supplier, yaitu biaya yang dikeluarkan untuk
mengembangkan kebutukan dan pengukuran data, auditing dan pelaporan
kualitas.
3. Biaya penilaian
(Detection/Appraisal Cost)
Biaya penilaian dikeluarkan dalam rangka pengukuran dan analisis data
untuk menentukan apakah produk atau jasa sesuai dengan spesifikasinya
dan persyaratan-persyaratan kualitas. Tujuan utama penilaian adalah
untuk menghindari terjadinya kesalahan dan kerusakan sepanjang proses
perusahaan, misalnya mencegah pengiriman barang-barang yang tidak sesuai
dengan persyaratan kepada pelanggan. Biaya ini meliputi:
1) Biaya pengujian dan inspeksi, yaitu biaya yang dikeluarkan
untuk menguji dan menginspeksi kesesuaian barang yang akan datang,
produk dalam proses dan produk selesai dengan kualifikasi yang tercantum
dalam pesanan
2) Peralatan pengujian, yaitu biaya yang dikelurkan untuk
memperoleh, mengoperasikan, atau mempertahankan kualitas, software,
mesin dan peralatan pengujian atau penilaian kualitas produk dan proses
3) Audit kualitas, yaitu biaya yang meliputi pemeriksaan
kualitas produk, seperti gaji dan upah semua orang yang terlibat dalam
penilaian kualitas produk dan jasa dan pengeluaran lain yang dikeluarkan
selama penilaian kualitas.
4) Evaluasi persediaan, yaitu biaya yang meliputi pengujian
produk di gudang, dengan tujuan untuk mendeteksi terjadinya penurunan
kualitas produk
5) Biaya informasi, yaitu biaya yang dikeluarkan untuk menyiapkan dan membuktikan laporan kualitas.
4. Cost Of Non Conformance
Biaya yang termasuk kedalam
Cost of Non Conformance adalah
biaya kegagalan internal dan ekternal karena biaya-biaya tersebut
merupakan biaya yang dikeluarkan karena menghasilkan produk yang cacat
dan
opportunity cost karena ditolaknya produk atau jasa.
- Biaya Kegagalan Internal (Internal Failure Cost)
Merupakan biaya yang terjadi karena adanya ketidaksesuaian dengan
persyaratan atau biaya yang dikeluarkan karena rendahnya kualitas yang
ditemukan sejak penilaian awal dan sebelum barang atau jasa dikirimkan
kepada pelanggan. Pengukuran biaya kegagalan internal dilakukan dengan
menghitung kerusakan produk sebelum meninggalkan pabrik.
Biaya kegagalan internal meliputi:
1) Biaya tindakan koreksi, adalah biaya untuk waktu yang
dihabiskan untuk menemukan penyebab kegagalan dan untuk mengoreksi
masalah
2) Sisa bahan, adalah kerugian yang timbul karena adanya sisa
bahan baku yang tidak terpakai dalam upaya memenuhi tingkat kualitas
yang dikehendaki.
3) Biaya pengerjaan kembali, adalah biaya yang timbul untuk
melakukan proses pengerjaan ulang agar dapat memenuhi standar kualitas
yang disyaratkan.
4) Biaya proses, adalah biaya yang dikeluarkan untuk mendesain
ulang produk atau proses dan pemberhentian mesin yang tidak direncanakan
dan gagalnya produksi karena adanya penyelaan proses untuk perbaikan
dan pengerjaan kembali
5) Biaya ekspedisi, adalah biaya yang dikeluarkan untuk
mempercepat operasi pengolahan karena adanya waktu yang dihabiskan untuk
perbaikan dan pengerjaan kembali
6) Biaya inspeksi dan pengujian ulang, adalah biaya yang
dikeluarkan selama inspeksi ulang atau pengujian ulang atas
produk-produk yang telah diperbaiki
7)
Factory Contact Engineering, adalah biaya yang
berhubungan dengan waktu yang digunakan oleh para ahli produk atau
produksi yang terlibat dalam masalah-masalah produksi yang menyangkut
kualitas.
2. Biaya Kegagalan Eksternal (
External Failure Cost)
Biaya kegagalan eksternal adalah biaya yang terjadi karena produk
atau jasa gagal memenuhi persyaratan-persyaratan yang diketahui setelah
produk itu dikirimkan kepada pelanggan, seperti biaya dalam rangka
meralat cacat kualitas setelah produk sampai ke pelanggan dan laba gagal
yang diperoleh karena hilangnya peluang sebagai akibat adanya produk
atau jasa yang tidak dapat diterima oleh pelanggan. Biaya ini merupakan
biaya yang paling membahayakan karena dapat membuat reputasi buruk ,
kehilangan pelanggan dan kehilangan pangsa pasar.
Biaya kegagalan eksternal meliputi:
1) Biaya untuk menangani keluhan dan pengembalian dari
pelanggan, biaya ini meliputi semua biaya yang ditimbulkan karena adanya
keluhan-keluhan tertentu, sehingga diperlukan pemeriksaan, reparasi
atau penggantian/penukaran produk. Biaya penanganan keluhan ini
dibedakan antara yang masih bergaransi dan masa garansinya sudah lewat.
2) Pelayanan (
service) produk, adalah biaya yang
dikeluarkan akibat dari usaha untuk memperbaiki ketidaksempurnaan atau
untuk pengujian khusus atau untuk memperbaiki yang cacat yang bukan
disebabakan oleh adanya keluhan pelanggan.
3) Biaya penarikan kembali dan pertanggung jawaban produk, biaya
untuk menangani pengembalian produk, perbaikan atau penggantian, biaya
hukum atau biaya penyelesaian hukum.
4) Penjualan yang hilang karena produk yang tidak memuaskan,
margin kontribusi yang hilang karena pesanan yang tertunda, penjualan
yang hilang dan menurunnya pangsa pasar.
Hansen dan Mowen (2005:8) mendefinisikan kegiatan-kegiatan yang
berhubungan dengan kualitas juga menunjukkan empat kategori biaya,
yaitu:
- Biaya pencegahan (prevention cost), yaitu biaya untuk mencegah kerusakan atau cacat produk.
- Biaya penilaian (appraisal cost), yaitu biaya yang harus dikeluarkan untuk mengadakan pengujian terhadap produk yang dihasilkan.
- Biaya kegagalan internal (internal failure cost), yaitu
biaya yang harus dikeluarkan karena perusahaan menghasilkan produk yang
cacat, tapi cacat produk tersebut sudah diketahui sebelum produk
tersebut sampai pada pelanggan.
- Biaya kegagalan eksternal (external failure cost), yaitu biaya yang dikeluarkan perusahaan karena menghasilkan produk yang cacat, dan produk ini telah diterima oleh konsumen.
2.3.Jasa.
2.3.1.Pengertian Jasa.
Menurut Kotler (l997;467) Jasa adalah setiap tindakan perbuatan yang
dapat ditawarkan oleh satu pihak lain yang pada dasarnya tidak berwujud
(intagible) dan tidak menghasilkan kepemilikan sesuatu.
Menurut Tjiptono (2005;6) Jasa merupakan aktifitas, manfaat atau
kepuasan yang ditawarkan untuk dijual. Menurut Lamb, Hair, and Daniel
(2001;482) mengemukakan bahwa jasa adalah hasil dari usaha penggunaan
manusia dan mesin terhadap sejumlah orang atau objek.
Menurut Kotler & Armstrong (2001;11) jasa merupakan segala
aktivitas atau manfaat yang dapat ditawarkan oleh suatu kelompok kepada
yang lainnya, yang pada dasarnya tidak nyata dan tidak berakibat pada
kepemilikan apapun. Sedangkan menurut Lupiyoadi & Hamdani (2006;6)
mendefinisikan jasa sebagai berikut : setiap tindakan atau kegiatan yang
dapat ditawarkan oleh satu pihak kepada pihak lain, pada dasarnya tidak
berwujud dan tidak mengakibatkan kepemilikan apa pun. Produksi jasa
bisa berkaitan dengan produk fisik atau sebaliknya.
Dari pengertian tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa jasa
merupakan sesuatu yang tidak dapat disentuh dan tidak dapat dirasa dan
jasa merupakan sesuatu yang tidak mudah didefinisikan, diformulasikan,
atau dipahami secara rohania. Seseorang tidak dapat menilai hasil dari
jasa sebelum ia menikmatinya. Bila pelanggan membeli, maka ia hanya
menggunakan, memanfaatkan, atau menyewa jasa tersebut.
2.3.2. Karakteristik Jasa.
Menurut Tjiptono (2005;15) ada empat karakteristik pokok pada jasa
yang membedakannya dengan barang. Keempat karakteristik tersebut adalah :
- Intangibility, jasa berbeda dengan barang, jika barang
merupakan suatu objek, alat, atau benda, maka jasa adalah suatu
perbuatan, kinerja atau usaha. Bila barang dapat dimiliki maka jasa
hanya dapat dikonsumsi tetapi tidak dapat dimilki. Jasa bersifat
intangible, artinya tidak dapat dilihat, dirasa, diraba, dicium, atau
didengar sebelum dibeli.
- Inseparability, Barang biasanya diproduksi, kemudian
dijual, lalu dikonsumsi. Sedangkan jasa biasanya dijual terlebih dahulu,
baru kemudian diproduksi dan dikonsumsi secara bersamaan. Interaksi
antar penyedia jasa dan pelanggan merupakan ciri khusus dalam pemasaran
jassa. Keduanya mempengaruhi hasil dari jasa tersebut. Dalam hubungannya
penyedia jasa dan pelanggan ini, efektifitas individu yang menyampaikan
jasa merupak unsur yang penting.
- Variability, jasa bersifat sangat variabel karena merupakan
nonstandardized output, artinya banyak variasi bentuk, kualitas dan
jenis, tergantung pada siapa, kapan, dan dimana jasa tersebut
dihasilkan.
- Perishability, jasa merupakan komoditas tidak tahan lama dan tidak dapat disimpan.
Menurut Lupiyoadi & Hamdani (2006;6) menyebutkan karakteristik jasa sebagai berikut :
- Intangibility (tidak berwujud). Jasa tidak dapat dilihat,
dirasa, diraba, didengar, atau dicium sebelum jasa itu dibeli. Nilai
penting dari hal ini adalah nilai tak berwujud yang dialami konsumen
dalam bentuk kenikmatan, kepuasan, atau kenyamanan.
- Unstorability (tdak dapat disimpan). Jasa tidak mengenal
persediaan atau penyimpanan dari pokok yang telah dihasilkan.
Karakteristik ini disebut juga inseparability (tidak dapat dipisahkan),
mengingat pada umumnya jasa dihasilkan dan dikonsumsi secara bersamaan.
- Customization (kustomisasi). Jasa sering kali didesain khusus untuk memenuhi kebutuhan pelanggan.
2.3.3. Kualitas jasa.
Menjadi organisasi yang fokus pada konsumen adalah pilihan strategi
bagi industri dan dunia usaha agar mampu bertahan ditengah situasi
lingkungan ekonomi yang memperlihatkan kecenderungan tidak menentu,
perubahan demi perubahan, persaingan tinggi dan semakin canggihnya
kualitas hidup. Salah satu cara adalah dengan menciptakan kepuasan
pelanggan melalui peningkatan kualitas, karena pelanggan adalah fokus
utama ketika kita mengukap tentang kepuasan dan kualitas jasa.
Menurut Tjiptono (2005;51) mendefinisikan kulitas sebagai suatu
kondisi dinamis yang berhubungan dengan produk, jasa, manusia, proses,
dan lingkungan yang memenuhi atau melebihi harapan.
Menurut Lupiyoadi & Hamdani (2006;175) kualitas menurut ISO 9000 adalah: “
degree to which a set of inherent characteristics fulfils requipments” (derajat yang dicapai oleh karakteristik yang inheren dalam memenuhi persyaratan). Persyaratan dalam hal ini adalah : “
need or expection that is stated, generally implied or obligatory”
(yaitu kebutuhan harapan yang dinyatakan, biasanya tersirat wajib).
Jadi kualitas sebagaimana yang diinterprestasikan ISO 9000 merupakan
perpaduan antara sifat dan karakteristik yang menentukan sejauh mana
keluaran dapat memenuhi persyaratan kebutuhan pelanggan. Pelanggan yang
menentukan dan menilai sampai seberapa jauh sifat dan karakteristik itu
memenuhi kebutuhan.
Definisi kualitas jasa berpusat pada upaya pemahaman kebutuhan dan
keinginan serta ketepatan penyampaiannya untuk mengimbangi harapan
pelanggan. Menurut Tjiptono (2005;59) kualitas jasa adalah tingkat
keunggulan yang diharapkan dan pengendalian atas tingkat keunggulan
tersebut untuk memenuhi keinginan pelanggan. Menurut Lupiyoadi &
Hamdani (2006;181) kualitas jasa dapat didefinisikan sebagai seberapa
jauh perbedaan antara kenyataan dan harapan pelanggan atas layanan yang
mereka terima.
2.3.4. Dimensi Kualitas Jasa.
Dalam perusahan penyedia jasa, kualitas layanan sangat penting karena
selain dari produk, kualitas layanan sangat menentukan apakah pelanggan
akan berpindah pada penyedia jasa lain atau tidak.
Menurut Zeitthaml, Berry (dalam Parasuraman,1994;40) mendefinisikan
kualitas layanan sebagai berikut : Kualitas layanan adalah persepsi
pelanggan terhadap keunggulan jasa. Terdiri dari lima dimensi yang
digunakan oleh pelanggan dalam menilai Kualitas layanan, antara lain:
- Tangibles (bukti fisik)
Berhubungan dengan penampilan dan kemampuan sarana dan prasarana
fisik dan dapat diandalkan, keadaan lingkungan sekitarnya adalah bukti
nyata dari pelayanan-pelayanan yang diberikan oleh si pemberi jasa
seperti gedung bagus, peralatan komputer yang canggih, kenyamanan
ruangan dan sebagainya
- Reliability (keandalan)
Suatu kemampuan untuk memberikan jasa yang dijanjikan dengan akurat
dan terpercaya. Kinerja harus sesuai dengan harapan pelanggan yang
berarti ketepatan waktu, pelayanan yang sama untuk semua pelanggan dan
tanpa kesalahan
- Responsiveness (ketanggapan)
Merupakan suatu kebijakan untuk membantu memberikan pelayanan yang
cepat (responsif) kepada pelanggan, membiarkan konsumen menunggu tanpa
adanya suatu alasan yang jelas menyebabkan persepsi yang negatif dalam
kualitas layanan. Pada peristiwa pelayanan yang gagal, kemampuan untuk
mengatasi hal tersebut secara profesional dapat memberikan persepsi yang
positif terhadap kualitas layanan
- Assurance (kepastian dan jaminan)
Pengetahuan dan keramahan karyawan serta kemampuan untuk melaksanakan
tugas secara spontan yang dapat menjamin kinerja yang baik sehingga
menimbulkan kepercayaan dan keyakinan pelanggan.
- Emphaty (perhatian)
Memberikan perhatian yang bersifat individual atau pribadi kepada
pelanggan dan berupaya untuk memahami keinginan konsumen atau pelanggan.
Implementasi kualitas layanan berpusat pada upaya pemenuhan kebutuhan
dan keinginan pelanggan serta ketepatan penyampaiannya untuk
mengimbangi harapan pelanggan. Kualitas layanan merupakan tingkat
keunggulan yang diharapkan dan pengendalian atas tingkat keunggulan
tersebut untuk memenuhi keinginan pelanggan.
Jika jasa diterima melampaui harapan pelanggan maka kualitas layanan
dipersepsikan sebagai kualitas yang ideal. Sebaliknya jika jasa yang
diterima lebih rendah daripada yang dihadapkan, maka kualitas layanan
dipersepsikan buruk.
Dalam perkembangannya menurut Lamb, Hair, Daniel (2001;485) dimensi jasa meliputi :
- Tangible merupakan bukti fisik jasa, meliputi fasilitas fisik, perkakas, dan peralatan yang digunakn untuk menghasilkan.
- Reliability sebagai kemampuan menyelenggarakan jasa dengan dapat diandalkan, akurat dan konsisten.
- Responsiveness adalah kemampuan untuk memberi pelayanan segera.
- Assurance adalah pengetahuan dan kesopanan karyawan serta kemampuan untuk menjaga kepercayaan.
- Emphaty adalah memperhatikan konsumen secara individu.
Dengan demikian maka baik atau buruknya kualitas jasa tergantung pada
kemampuan penyedia jasa dalam memenuhi harapan pelanggannya secara
konsisten.
2.4. Hubungan Total Quality Management Terhadap Biaya Kualitas dan Kualitas Pelayanan.
Menurut Ross dalam Nasution (2005:17) bahwa dewasa ini ada tiga
kategori pandangan yang berkembang diantara para praktisi mengenai biaya
kualitas, yaitu:
- Kualitas yang makin tinggi berarti biaya yang semakin tinggi pula.
- Biaya peningkatan kualitas lebih rendah daripada penghematan yang dihasilkan
- Biaya kualitas merupakan biaya yang besarnya melebihi biaya yang
terjadi apabila produk atau jasa yang dihasilkan secara benar sejak
awal.
Hadirnya
Total Quality Management memberi pendapat bahwa
zero defect
harus menjadi sasaran perusahaan. Perusahaan seharusnya menganalisis
penyebab semua kesalahan dan mengambil tindakan untuk memperbaikinya.
Terdapat perbedaan antara pandangan tradisional dan
Total Quality Management. Berdasarkan pendekatan tradisional, biaya terendah dicapai pada
level non zero defect.
Pendukung pandangan ini berpendapat bahwa biaya untuk mengatasi
kesalahan meningkat dengan semakin banyaknya kesalahan yang terdeteksi
dan berkurang apabila ada sedikit kesalahan yang dibiarkan.
Sebaliknya,
Total Quality Management berpendapat bahwa biaya terendah dicapai pada
level zero defect.
Pendukung pandangan ini berpendapat bahwa meskipun kesalahan yang ada
itu jumlahnya besar, tetapi hal ini tidak memerlukan lebih banyak biaya
untuk memperbaiki kesalahan yang terakhir tersebut dibandingkan dengan
mengkoreksi kesalahan pertama. Oleh karena itu biaya total menurun terus
sampai kesalahan terakhir diatasi. Dalam hal ini
Total Quality Management berpendapat bahwa kualitas tanpa biaya.
Tampak bahwa
Total Quality Management sangat berkaitan
dengan biaya karena dengan peningkatan kualitas pelayanan maka
perusahaan dapat menekan biaya, terutama dalam mengurangi atau
menghilangkan pemborosan. Penekanan biaya yang lain adalah karena
perusahaan tidak menghasilkan produk cacat.
2.5. Kerangka Konsep.
Kerangka berfikir merupakan model konseptual tentang bagaimana teori
berhubungan dengan berbagai faktor yang diidentifikasikan sebagai
masalah penting. Kerangka konseptual akan menghubungkan secara teoritis
variabel-variabel penelitian, yaitu variabel
independen dengan
dependen.
Dalam penelitian ini, variabel
independen adalah
Total Quality Management
sedangkan variabel dependennya adalah Efisiensi Biaya dan Efektifitas
Pelayanan Adapun kerangka konseptual dalam penelitian ini dapat
digambarkan sebagai berikut:
Gambar 2.3
Kerangka Konseptual
Independent Dependent
Keterangan :
TQM = Variabel Independent (X)
Efesiensi Biaya = Variabel Dependent (Y
1)
Efektivitas Pelayanan = Variabel Dependent (Y
2)
2.6 Definisi Operaisonal Variabel Penelitian.
Tabel 2.1
Definisi Operasional Variabel Penelitian
| Variabel |
Definisi |
Indikator |
Skala pengukuran |
| Variabel Independent (X) :Total Quality Manajement (TQM) |
Usaha untuk memaksimumkan daya saing
organisasi melalui perbaikan terus-menerus atas produk, jasa, manusia,
proses dan lingkungannya pada Departemen Kamar di Hotel Grage Horizon
Bengkulu. |
- Kepemimpinan
- Analisis dan Info
- PerencanaanKualitas strategis
- Pengembangan Sumber daya Manusia
- Manajemen Kualitas dan proses
- Hasil-hasil Kualitas
- Kepuasan Pelanggan
|
Likert |
| Variabel Dependent (Y1) : Efisiensi Biaya Kualitas |
Biaya yang berhubungan dengan penciptaan,
pengidentifikasian, perbaikan dan pencegahan kerusakan pada Departemen
Kamar di Hotel Grage Horizon Bengkulu. |
- BiayaPencegahan
- Biaya Penilaian
- Biaya kegagalan internal
- Biaya kegagalanEksternal
|
Likert |
| Variabel Dependen (Y2):Efektivitas Pelayanan |
Sesuatu yang tidak dapat disentuh dan tidak
dapat dirasa dan jasa merupakan sesuatu yang tidak mudah
didefinisikan,diformulasikan, atau dipahami secara rohania pada
Departemen Kamar di Hotel Grage Horizon Bengkulu. |
- Tangibles (bukti fisik)
- Reliability (keandalan)
- Responsiveness (ketanggapan)
- Assurance (kepastian dan jaminan)
- Emphaty (perhatian)
|
Likert |
Sumber : Nasution (2005: 326)
Hansen dan Mowen ( 2005 : 8)
Lamb, Hair, Daniel (2001 : 485)
2.7. Hipotesis Penelitian.
Hipotesis adalah kesimpulan sementara yang masih harus dibuktikan
lagi kebenarannya. Berdasarkan kerangka konseptual yang telah diutarakan
sebelumnya, maka penulis mengemukakan hipotesa sebagai berikut:
H
1: Penerapan
Total Quality Management berpengaruh terhadap efisiensi biaya pada Hotel Grage Horizon Bengkulu
H
2: Penerapan
Total Quality Management berpengaruh terhadap efektivitas pelayanan pada Hotel Grage Horizon Bengkulu
Penelitian ini akan dilakukan di Hotel Grage Horizon Bengkulu dan
akan dilaksanakan selama 1 bulan penelitian yaitu bulan April – Mei 2011
Desain penelitian yang digunakan adalah penelitian korelasional yaitu
penelitian yang bertujuan untuk menentukan apakah terdapat asosiasi
antar variabel dan membuat prediksi berdasarkan korelasi antarvariabel.
(Erlina, Sri Mulyani: 2007:14)
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh karyawan departemen
kamar pada Hotel Horizon Bengkulu yang berjumlah 25 orang karyawan.
Teknik sampling yang dilakukan untuk penelitian ini adalah
,
yaitu seluruh anggota populasi dijadikan sampel penelitian. Jadi sampel
dalam penelitian ini adalah seluruh karyawan departemen kamar pada
Hotel Horizon Bengkulu yang berjumlah 25 orang karyawan.
Berdasarkan Sugiyono, (2010:137-145) teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah :
Metode analisis data yang digunakan dimulai dengan pembentukan model
matematis yaitu suatu pernyataan hubungan matematis yang digunakan dalam
menentukan hubungan yang berlaku antara
dengan
efisiensi biaya dan efektifitas pelayanan. Analisis yang digunakan
dalam penelitian ini dengan metode analisis regresi linier sederhana
sebagai berikut :
Regresi linear digunakan karena analisis ini dapat memberikan
informasi mengenai besarnya pengaruh variabel bebas terhadap variabel
terikat. Analisis ini dilakukan dengan menggunakan alat bantu program
SPSS versi 19 for windows.
Uji t digunakan untuk menguji hipotesis secara persial, yaitu untuk
mengukur X terhadap variabel Y dengan tingkat keyakinan 95 % atau
t = ……………. (Sugiyono, 2003 : 143)
Jika t hitung < t tabel maka Ho diterima Ha ditolak. Berarti variabel pengaruh